Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Senin, 10 November 2014

Zi dan dari Tulisan yang Meng inspirasi

Dalam berinteraksi dengan orang lain sering disertai reflektifitas masing-masing, baik ketika memulai perkenalan ataupun dalam keberlanjutannya. refleksi yang sering terjadi adalah ketika perkenalan, bermacam cara dilakukan menurut karakter masing-masing, ada yang langsung pede, ada yang tarik ulur, ada yang dingin, ada yang minder, malu, sombong, cuek dan lain sebagainya.

Terlepas dari itu semua saya ingin bercerita tentang sebuah refleksi perkenalan yang menurut saya sangat menginspirasi, karena saya termasuk orang yang menggunakan metode pendekatan hermeunetik sebelum melakukan perkenalan dengan seseorang, dan saya memiliki klasifikasi yang meruangkan teman-teman saya di jejaring sosial tersebut, ada yang sekedar add and confirm, ada yang sampai kirim pesan, ada juga yang langsung blokir aja sebagai spam, sebelumnya maaf bagi yang nanti merasa bersangkutan boleh protes hehehe. dimulai dari perkenalan di jejaring sosial terkemuka bernama Facebook. akhir-akhir ini gejolak facebookers memang sudah mulai kebablasan, sampai ada yang tega menghinakan diri dengan memampang foto profil yang tidak layak di jaman moderen ini, yaitu pose-pose darkam ( sadar kamera / lebih kerennya Narsis), menampilkan aksen jaman paganisme yang belum mengenal pakaian, alias telanjang / semi telanjang. ditengah kejengkelan melihat hal-hal tersebut, saya mulai sibuk mengklaim spam id -id facebookers ke admin pengelola facebook biar di blokir sama adminnya, nah tiba-tiba terpautlah pandangan saya pada sederetan tulisan uppdate statusnya seorang yang setelahnya di ketahui bernama Zi. mungkin bagi sebagian orang  itu cuma uppdate status salah seorang facebookers sebagaimana umumnya, namun ada yang beda dari tulisan itu, saya nilai beda karena adanya ketajaman penulis untuk meng eksekusi tulisan tersebut menjadi lebih bermuatan ' mensugesti / saya untuk tertantang melihat lebih jauh ', berikut nukilannya :

1). 
Ada yg terjebak
Dalam sebuah ruang kotak
Padahal takdir serupa partikel udara yg bergerak
Ia meloncat tanpa bisa kau tebak
Hei,
Lihat ke lapang luas
Apa benar bumi hanya selebar kertas?
----
2).
Bukankah hujan, perpustakaan, dan adzan adalah perpaduan yang syahdu? Biar kulukis wajahmu pada jendela-jendela kaca beku, lalu kubisikan namamu agar bergabung ia bersama bau basah ...
----
3).
Ketika jeda dari Senin ke Senin seolah hanya sekedip mata, menyingkirlah sejenak dari keramaian, rasakan sepinya perpustakaan, pendingin ruangan yg menyembur pelan, dan perjalanan dalam kotak elevator sendirian, mungkin itu sedikit mengurangi relativitas yg kamu rasakan ...
----
4).
Dari dulu, belajar manual metode transportasi memang selalu menyita ruang pikir, maka bersabarlah ...
----
5).
"Jadi satu purnama di Jakarta dan New York itu beda." ihihihi cc
----
6).

Daily Journal [3]: Tak Sama

Aku tidak tau di mana lelaki itu sekarang ketika kamu memasuki halaman sebuah masjid yang dominan berwarna hijau dan menggenapkan shaf yang kurang satu di bagian depan, duduk bersimpuh dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tas punggung abu-abumu. Kamu menyimak apa yang disampaikan seorang pemateri di depan sana, sesekali tersenyum simpul bersama seseorang di sampingmu, sesekali melihat ponsel yang diletakkan di atas tas. 

Maghrib sepuluh menit lagi turun kala itu. Remang di luar sana, tapi belum sepenuhnya berubah jadi gelap. Suasana masjid ramai, anak-anak kecil memakai mukena warna-warni, mendekap mushaf berukuran sedang memasuki halaman, menyusun sandal dengan arah dan sudut yang sama, rapi. 

Aku juga tidak tau di mana lelaki itu ketika kamu sedang berada di sebuah forum diskusi pekanan, membicarakan banyak hal menarik dengan menggebu, diskusi yang tak ada habisnya kalau tak terpenggal adzan maghrib dan datangnya semburat jingga.

Aku tetap tidak tau apa yang sedang dilakukan lelaki itu ketika kamu duduk bersama mushafmu, menyelesaikan tilawah satu juz seharimu. Dilanjutkan dengan duduk bersandar di sisi tempat tidur, membaca novel-novel dari penulis favoritmu.

Aku mulai sungguh-sungguh ingin mencari tau ketika aku melihatmu membuka bahan ajar kuliahmu, serius mencoret-coretnya, membuka laptop dan membaca lembar presentasi dengan seksama. Sedang apa lelaki itu sebanrnya, bisa-bisanya dia mengharapkanmu sedemikian hebatnya? Punya apa dia sebenarnya?

Aku berniat untuk terbang dan menemukannya ketika melihatmu memasuki sebuah gedung tujuh lantai di sebuah akhir pekan dan berdiri di depan elevator. Tanganmu terjulur memnecet satu tombolnyadan tak lama benda itu membawamu ke lantai empat. Di sebuah ruang lapang dengan jendela yang besar, engkau memilih seperangkat meja dan kursi yang paling dekat dengan jendela yang terbuka. Sejuk tempat itu bukan dari pendingin ruangan melainkan hembus angin dari jendela. Kamu mulai membuka personal computermu, bebarapa lama fokus pada pekerjaanmu lalu pada menit ke 120 kamu menyandarkan punggung di sandaran kursi kayu. Matamu terpejam, menikmati hembus angin yang menampar wajahmu perlahan. 

Dari luar terdengar deru terompet dari sekelompok anak-anak marching band yang tengah berlatih, dan kamu menikmatinya. Baiklah aku terbang dulu, biar kupindai apa yang tengah dilakukan lelaki itu ketika kamu begitu sibuk dengan aktivitasmu.


@@@

Lelaki itu sedang duduk menghadapi komputernya, tiga buah ponsel tergeletak di sisi kirinya, sementara di sebelah kanannya buku-buku tebal terbuka. Materi kuliah? Bukan tentu saja, di kelas pun dia tidak tertarik untuk setidaknya tidak terlihat tidak bisa dengan bahan kuliah itu. Dia membaca buku-buku yang tidak diajarkan di kelas.

Aku mendekat, berdiri pelan-pelan di balik punggungnya, mengintip apa yang sedang dikerjakannya.Sebuah proyek besar untuk negerinya. Khusyu sekali lelaki itu menulis. Konsentrasinya teralihkan sedikit tatkala ia mendengar bunyi salah satu dari tiga ponselnya. Ia menjepit benda itu antara telinga dan bahunya, berbicara di telepon.

"Oke, setengah jam lagi saya sampai." lelaki itu melirik jam di pergelangan tangan kananya lalu mematikan komputer dan menyambar sebuah kunci motor dan jaket. Melesat, mengunci pintu rumah dan pagar depan, kemudian bergabung ke jalan raya yang padat menjelang ashar hari itu.

Sayup-sayup adzan ashar terdengar bersahut-sahutan. Aku menunggu, mau apa dia? Melanjutkan perjalanan atau ...

Motornya berbelok ke pelataran sebuah masjid. Aku megambil tempat di sampingnya, ruku dan sujud bersama seorang imam.

Aku mendahuluinya pergi ke tempat tujuannya, meliuk-liuk bersama partikel udara untuk kemudian sampai di sebuah desa nun jauh di atas bukit. Di sana sudah berkumpul banyak orang, penduduk desa setempat, kebanyakan adalah para pencinta bumi. Lelaki itu datang bak pahlawan, duduk di kursi yang telah disediakan lalu mulai menuliskan sesuatu di kertas plano besar yang memang telah disiapkan untuknya. 

Malam harinya, ketika perjalanan malam telah mencapai setengahnya,lelaki itu masih menghadapi komputernya, memasukkan angka-angka dan menulis sesuatu. Ia baru tertidur menjelang dini hari dan bangun stelah adzan shubuh berkumandang lama. Mendekati iqamat lelaki itu tergopoh-gopoh meraih hemnya dan memakai sarungnya menuju ke mushala dekat rumah.

Aku geleng-geleng kepala dibuatnya.

@@@

"Hai ..." lelaki itu menyapamu di tangga, "Telat juga? Tumben." ujarnya setengah menghina, setengah tertawa. Lelaki itu baru datang ke kampus.Kamu meliriknya sedikit.

"Kamar mandi lantai 2 sedang dibersihkan. Siapa bilang aku telat?" ketusmu lalu mendahuluinya masuk ke kelas. Senyum lelaki itu pudar. Tak lami aku melihatnya mengikutimu lalu menjajarimu.

"Tugasmu sudah selesai?" tanyanya sok ramah.

"Menurutmu?" jawabmu pendek. Aku tertawa dari jauh.

Lelaki itu tersenyum hampa lalu menggaruk rambutnya yang mendadak gatal.

"Iya, aku belum sempat mengerjakan kemarin aku ada acara ..."

"Diamlah, sudah ada dosen." sambarmu cepat lalu masuk ke dalam kelas. Lelaki itu duduk beberapa meja di belakangmu, menatapmu dari jauh. Aku juga duduk di sampingnya, berbisik pelan di telinganya:

"Terlalu banyak perbedaan di antara kalian." sinisku. Lelaki itu tersenyum satire.

"Kecuali dalam cinta, lihat saja nanti."
----

Baik sampai sini dulu CUT ( heheh)

apa yang bisa kalian tangkap dari sebuah status selain  mengomentarinya ?? adakah kalian memahami ala kulli haal ??
kalian pasti memiliki penilaian dengan opini kalian masing-masing, namun disini saya akan mencoba menelaah lebih dalam bagian dari refleksi facebookers yang satu itu eh yang satu ini heheh. 
tapi saya tidak ingin di ruangkan dalam dimensi komplen dengan standar kapasitas yang rumit ya hehehe karena saya bukan termasuk orang yang berada pada kapasitas rumit, alias saya adalah orang biasa-biasa saja.

1). 
Kalimat syair yang mengulas sebuah kejadian seseorang yang ia lihat, terjebak pada sebuah ruang kotak, pertanyaannya kenapa ruang kotak ? ga ruang segitiga ? atau memilih diksi ' ruang sempit ' aja. nah menurut analisa saya penulis memilih diksi ruang kotak adalah sebagai suatu permisalan dimensi yang stagnan dan wajar, yang sering dialami orang dalam keadaan secara keumuman, jika anda berada dalam sebuah ruang kotak apa yang anda lihat ? tak lain adalah dinding, atap dan alas, mereka akan tersekat pada sebuah ke jumudan  (keterbatasan pemahaman), terbatas dengan pandangan yang terhalang 3 elemen dimensi tadi, nah penulis memisalkan sebuah kecenderungan bahwa kejadian yang ia lihat adalah seseorang yang tidak memahami hal lain selain yang ia rasakan, tidak ada sebuah wawasan yang keluar dari keadaan yang ia alami, tidak ada solusi dan hanya seperti itu adanya. sehingga terkorelasi dengan kalimat setelahnya " padahal takdir serupa partikel udara yang bergerak". sebuah makna yang menunjukkan adanya pengingkaran atau bertolak belakangnya subyek yang di lihat dengan kenyataan yang sebenarnya, ulasan takdir adalah partikel udara adalah permisalan suatu hal yang bisa berubah dalam hitungan detik tanpa diketahui kapan perubahannya. jadi disimpulkan bahwa ini adalah sentilan atau kritisi dari sebuah fenomena yang penulis lihat bahwa subyek terjebak pada suatu kondisi sehingga merasa apa yang di alaminya merupakan  takdir yang tidak bisa berubah / takdir yang tidak bisa dia ubah karena ketidak sadaran atau ketidak pahaman subyek itu sendiri. kemudian penulis mencoba memberi pemahaman kepada subyek tersebut dengan mengatakan " hai, lihat ke lapang luas apa benar bumi hanya selembar kertas"  agar subyek tau bahwa kejumudan subyek itu adalah sesuatu yang tidak benar, karena kalau saja subyek mau berusaha keluar dari keadaan tersebut maka subyek akan mengetahui betapa banyak solusi dari keadaan yang dialaminya.

2).
Kalimat yang terdiri dari lebih banyak permisalan biasanya ada makna yang sedikit penulis rahasiakan, dalam hal ini berupa sebuah kondisi privacy yang diserasikan dengan kejadian alam yang ternyata nge pas banget dengan kondisi privacy tadi, misalkan kita berada di sebuah restoran, sedangkan kita lebih banyak waktu disana untuk menikmati hidangan yang kita sukai, disaat kemudian kita merasa nyaman dengan diperdengarkan lagu yang pas banget dengan suka cita kita, apa yang kita rasakan?  tentu kita akan lebih ingin berlama-lama di restoran tersebut, dengan alasan nyaman, bahagia, damai, seakan tidak ada hal lain yang bisa memalingkan kita dari keadaan tersebut, nah penulis menukilkan kisi-kisi perasaan pribadi dengan mengaitkan kepada kondisi hujan, suara adzan dan ketenangan suasana di perpustakaan, refleknya adalah kondisi privacy penulis yang coba ia gambarkan dari keadaan alam tersebut. wallahu a'lam gambar wajah siapakah itu yang penulis maksud, dia lebih tau heheh

3).
Penulis menyampaikan sebuah saran kepada pembaca bahwa rutinitas dan kesibukan yang membuat waktu terasa singkat terkadang membuat kita kurang menikmati hari-hari tersebut, nah solusinya adalah penulis mengajak pembaca untuk sejenak meninggalkan rutinitas tersebut dengan menuju ke tempat yang penulis sukai yaitu perpustakaan dengan semua dimensi dan kondisinya, karena menurut penulis disana tuh nyaman dan sangat bisa dinikmati. (intinya dia nyari temen di perpus heheh)

4).
Korelasi antar status uppdate dari hari kehari penulis sangat jelas bahwa penulis berusaha menepis semua kesibukan dan beban berat studinya dengan kesabaran, mencoba memberi keseimbangan dengan cara ' mewarnai kesibukannya dengan menepi, mencari ruang pendukung yang tetap mencocoki bagian dari hajat kesibukannya tersebut sembari refresing, kelihatan banget tuh polanya seperti pepatah kata mengatakan ' menyelam sambil minum soft drink' heheh

5).
Penulis dapet wawasan baru karena ternyata purnama disini dengan purnama di new york itu beda, ya bedalah masa ya beda donk. hehehehhe baru tau dia.

6).
ini semacam tulisan non fiksi yang di fiksikan atau pengalaman pribadi ketika sedang melakukan spionase kepada seseorang yang penulis kagumi, tanpa membahas siapakah gerangan yang di ceritakan hehehhe ( anti a'lamu fi umuri kalaamuk )

Nah itulah sisi beda dari status Zi di banding status facebookers yang lain, dan ternyata benar dia anggota FLP angkatan kesekian hehehe, sekian dan terimakasih atas inspirasinya sehingga saya merasa terbantu, dan berharap mendapat inspirasi untuk selanjutnya dan selanjutnya.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu