Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Sabtu, 15 November 2014

Aku, FLP & Dakwah Kepenulisan


               Tulisan merupakan bagian dari sejarah peradaban manusia, di mulai dari ditemukannya tilasan jejak yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, yaitu di daerah mesopotamia dan mesoamerica tepatnya berasal dari zapotec daerah mexico, sedangkan mesopotamia lebih dekat dengan sumer kuno pada tahun 3200 SM, kemudian mengalami perkembangan sesuai zaman, didalam ilmu sejarah menyebutkan perkembangan tulisan di sinyalir berada di asia, walaupun terjadi perdebatan antara di mesir kuno 3200 SM atau di china 1300 SM, tulisan yang ditemukan pada zaman itu adalah naskah kuno yang terdiri dari 12 naskah dengan model tulisan berupa simbol mnemonic dengan sistem ideografik. (Powell, Barry B. 2009. Writing: Theory and History of the Technology of Civilization, Oxford: Blackwell).

                Sejarah tersebut membuktikan bahwa setiap peradaban manusia dari zaman ke zaman tidak bisa lepas dari apa yang disebut dengan tulisan, yang sifat dan tujuannya adalah sebagai pesan, pengingat, surat menyurat, dan sebagai ekspresi manusia sesuai dengan peradabannya ( Rusyana 1994)

                Tulisan adalah sebagai ekspresi manusia, terlepas dari apa pesan dan maksud tujuan dari tulisan itu sendiri, dulu ketika saya masih SMA, karakter kepenulisan sebenarnya sudah terlihat, namun seperti dialami pemula pada umumnya, yang memiliki ekspresi dan semangat akan tetapi ada keminderan dalam diri mereka sehingga tidak memiliki keberanian untuk mempublikasikannya, itulah yang terjadi juga pada diri saya waktu itu. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, yang pertama adalah low profile, yang kedua adalah privacy, dan yang ketiga adalah easy going atau sembari iseng saja.
                Saat ini baru tersadar, ketika saya membongkar manuskrip saya di lemari yang sudah belasan tahun  tersimpan, saya buka kembali lembaran-lembaran manuskrip tersebut, Masya Allah ternyata tidak menyangka bahwa tulisan-tulisan itu saya yang menulis, saya terenyuh dan terkesan pada tulisan sendiri , akhirnya saya mulai kembali mengasah potensi, ada perbedaan antara tulisan muda dan tulisan tua ( baca waktu dulu dan waktu sekarang), yaitu masalah karakter bahasa, isi tulisan dan ending discription nya, dulu saya suka dengan karya fiksi, dan sekarang saya lebih condong ke non fiksi, dulu tidak punya akhiran yang pas, sekarang sudah mulai sesuai plot dan judul.

                Sampailah pada ketertarikan saya pada sebuah komunitas kepenulisan yang kita kenal sekarang sebagai forum kepenulisan terbesar dan paling produktif mencetak penulis-penulis kreatif, siapa lagi kalau bukan FLP, saya sebenarnya mengenal FLP sudah sejak awal berdirinya kira-kira tahun 2000 an kalau tidak salah, bahkan saya sempat menggandrungi novelnya Asma Nadia dan pernah hunting buku beliau di Gramedia disetiap terbitnya dan sempat ingin bergabung dengan FLP pada tahun 2004, namun karena kesibukan dan aktifitas jihad nafkah, akhirnya keinginan untuk bergabung dengan FLP jadi timbul lenyap, apalagi ketika selalu kehilangan kesempatan OPREC FLP yang terlewatkan karena kurangnya informasi, jadi lengkap sudah penderitaan saya selama ini, saya jadi katak dalam tempurung di dunia kepenulisan sedangkan saya sangat berkeinginan untuk mengembangkan potensi saya tersebut.

                Banyak hal yang bisa saya tangkap dari buku-buku karangan penulis FLP, ada yang centil seperti bahasa ABG, ada yang puitis seperti gaya pujangga dan ada yang apa adanya, namun yang membuat saya terkesan adalah pesan moral dan muatan keislaman yang sangat kental di dalam gaya kepenulisan penulis FLP, inti dari semua itu adalah dakwah, iya dakwah melalui tulisan dirasa sangat efektif, karena hingar bingar tulisan fiksi dan non fiksi sejak dulu di dominasi oleh penulis-penulis sekuler yang jauh dari nilai keislaman, tentu hal ini di jadikan santapan generasi muda yang memang masih labil dan mudah terpengaruh, walhal akhirnya banyak remaja di indonesia ini mengidap penyakit yang susah disembuhkan, yaitu al isyq’ (mabuk cinta), kita banyak menemukan muatan pornograph di novel-novel sekuler, bermuatan apatis dan cengeng terhadap kenyataan kehidupan, sehingga mereka jadi kerdil, mudah putus asa dan jauh dari nilai agama serta jauh dari moralitas bangsa timur.

                Kerisauan semakin muncul ketika kebebasan pers dan dunia jurnalis menebar teror kepada islam, dengan tekanan-tekanan politis dan intrik, hal ini menambah kecemasan yang luar biasa pada diri saya, saya merasa terpanggil untuk ikut serta dalam dunia kepenulisan, saya merasa berpotensi untuk ikut berjuang didalamnya, untuk itulah dengan ‘bismillah’ saya akan ikut bergabung dalam barisan FLP, bergabung dengan para duat kepenulisan sebagai wujud jihad kepenulisan demi membela islam dan generasi islam yang berangsur terpuruk karena penjajahan ideologi sekuleris liberalis.

                Harapan saya kepada FLP teruslah berjuang wahai pemilik pena-pena emas, tetaplah berjuang wahai duat fi sabilillah, teruslah berprestasi dan berlomba dalam kebaikan, kita tegakkan pilar keislaman yang telah goncang, kita kokohkan tali ukhuwah yang  terberai oleh kotak-kotak pemikiran barat dan kekufuran, semoga FLP bisa berkembang menjadi sebuah komunitas internasional dan membawa panji-panji islam jaya di dunia kepenulisan, Allahu Akbar..!!! wa’ala kulli hal, Wallohu a’lamu bi shawab.

Gamping, 30 Oktober 2014

E. Sulthoni
mustthoni@gmail.com
@mustthoni

               

Senin, 10 November 2014

Zi dan dari Tulisan yang Meng inspirasi

Dalam berinteraksi dengan orang lain sering disertai reflektifitas masing-masing, baik ketika memulai perkenalan ataupun dalam keberlanjutannya. refleksi yang sering terjadi adalah ketika perkenalan, bermacam cara dilakukan menurut karakter masing-masing, ada yang langsung pede, ada yang tarik ulur, ada yang dingin, ada yang minder, malu, sombong, cuek dan lain sebagainya.

Terlepas dari itu semua saya ingin bercerita tentang sebuah refleksi perkenalan yang menurut saya sangat menginspirasi, karena saya termasuk orang yang menggunakan metode pendekatan hermeunetik sebelum melakukan perkenalan dengan seseorang, dan saya memiliki klasifikasi yang meruangkan teman-teman saya di jejaring sosial tersebut, ada yang sekedar add and confirm, ada yang sampai kirim pesan, ada juga yang langsung blokir aja sebagai spam, sebelumnya maaf bagi yang nanti merasa bersangkutan boleh protes hehehe. dimulai dari perkenalan di jejaring sosial terkemuka bernama Facebook. akhir-akhir ini gejolak facebookers memang sudah mulai kebablasan, sampai ada yang tega menghinakan diri dengan memampang foto profil yang tidak layak di jaman moderen ini, yaitu pose-pose darkam ( sadar kamera / lebih kerennya Narsis), menampilkan aksen jaman paganisme yang belum mengenal pakaian, alias telanjang / semi telanjang. ditengah kejengkelan melihat hal-hal tersebut, saya mulai sibuk mengklaim spam id -id facebookers ke admin pengelola facebook biar di blokir sama adminnya, nah tiba-tiba terpautlah pandangan saya pada sederetan tulisan uppdate statusnya seorang yang setelahnya di ketahui bernama Zi. mungkin bagi sebagian orang  itu cuma uppdate status salah seorang facebookers sebagaimana umumnya, namun ada yang beda dari tulisan itu, saya nilai beda karena adanya ketajaman penulis untuk meng eksekusi tulisan tersebut menjadi lebih bermuatan ' mensugesti / saya untuk tertantang melihat lebih jauh ', berikut nukilannya :

1). 
Ada yg terjebak
Dalam sebuah ruang kotak
Padahal takdir serupa partikel udara yg bergerak
Ia meloncat tanpa bisa kau tebak
Hei,
Lihat ke lapang luas
Apa benar bumi hanya selebar kertas?
----
2).
Bukankah hujan, perpustakaan, dan adzan adalah perpaduan yang syahdu? Biar kulukis wajahmu pada jendela-jendela kaca beku, lalu kubisikan namamu agar bergabung ia bersama bau basah ...
----
3).
Ketika jeda dari Senin ke Senin seolah hanya sekedip mata, menyingkirlah sejenak dari keramaian, rasakan sepinya perpustakaan, pendingin ruangan yg menyembur pelan, dan perjalanan dalam kotak elevator sendirian, mungkin itu sedikit mengurangi relativitas yg kamu rasakan ...
----
4).
Dari dulu, belajar manual metode transportasi memang selalu menyita ruang pikir, maka bersabarlah ...
----
5).
"Jadi satu purnama di Jakarta dan New York itu beda." ihihihi cc
----
6).

Daily Journal [3]: Tak Sama

Aku tidak tau di mana lelaki itu sekarang ketika kamu memasuki halaman sebuah masjid yang dominan berwarna hijau dan menggenapkan shaf yang kurang satu di bagian depan, duduk bersimpuh dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dari tas punggung abu-abumu. Kamu menyimak apa yang disampaikan seorang pemateri di depan sana, sesekali tersenyum simpul bersama seseorang di sampingmu, sesekali melihat ponsel yang diletakkan di atas tas. 

Maghrib sepuluh menit lagi turun kala itu. Remang di luar sana, tapi belum sepenuhnya berubah jadi gelap. Suasana masjid ramai, anak-anak kecil memakai mukena warna-warni, mendekap mushaf berukuran sedang memasuki halaman, menyusun sandal dengan arah dan sudut yang sama, rapi. 

Aku juga tidak tau di mana lelaki itu ketika kamu sedang berada di sebuah forum diskusi pekanan, membicarakan banyak hal menarik dengan menggebu, diskusi yang tak ada habisnya kalau tak terpenggal adzan maghrib dan datangnya semburat jingga.

Aku tetap tidak tau apa yang sedang dilakukan lelaki itu ketika kamu duduk bersama mushafmu, menyelesaikan tilawah satu juz seharimu. Dilanjutkan dengan duduk bersandar di sisi tempat tidur, membaca novel-novel dari penulis favoritmu.

Aku mulai sungguh-sungguh ingin mencari tau ketika aku melihatmu membuka bahan ajar kuliahmu, serius mencoret-coretnya, membuka laptop dan membaca lembar presentasi dengan seksama. Sedang apa lelaki itu sebanrnya, bisa-bisanya dia mengharapkanmu sedemikian hebatnya? Punya apa dia sebenarnya?

Aku berniat untuk terbang dan menemukannya ketika melihatmu memasuki sebuah gedung tujuh lantai di sebuah akhir pekan dan berdiri di depan elevator. Tanganmu terjulur memnecet satu tombolnyadan tak lama benda itu membawamu ke lantai empat. Di sebuah ruang lapang dengan jendela yang besar, engkau memilih seperangkat meja dan kursi yang paling dekat dengan jendela yang terbuka. Sejuk tempat itu bukan dari pendingin ruangan melainkan hembus angin dari jendela. Kamu mulai membuka personal computermu, bebarapa lama fokus pada pekerjaanmu lalu pada menit ke 120 kamu menyandarkan punggung di sandaran kursi kayu. Matamu terpejam, menikmati hembus angin yang menampar wajahmu perlahan. 

Dari luar terdengar deru terompet dari sekelompok anak-anak marching band yang tengah berlatih, dan kamu menikmatinya. Baiklah aku terbang dulu, biar kupindai apa yang tengah dilakukan lelaki itu ketika kamu begitu sibuk dengan aktivitasmu.


@@@

Lelaki itu sedang duduk menghadapi komputernya, tiga buah ponsel tergeletak di sisi kirinya, sementara di sebelah kanannya buku-buku tebal terbuka. Materi kuliah? Bukan tentu saja, di kelas pun dia tidak tertarik untuk setidaknya tidak terlihat tidak bisa dengan bahan kuliah itu. Dia membaca buku-buku yang tidak diajarkan di kelas.

Aku mendekat, berdiri pelan-pelan di balik punggungnya, mengintip apa yang sedang dikerjakannya.Sebuah proyek besar untuk negerinya. Khusyu sekali lelaki itu menulis. Konsentrasinya teralihkan sedikit tatkala ia mendengar bunyi salah satu dari tiga ponselnya. Ia menjepit benda itu antara telinga dan bahunya, berbicara di telepon.

"Oke, setengah jam lagi saya sampai." lelaki itu melirik jam di pergelangan tangan kananya lalu mematikan komputer dan menyambar sebuah kunci motor dan jaket. Melesat, mengunci pintu rumah dan pagar depan, kemudian bergabung ke jalan raya yang padat menjelang ashar hari itu.

Sayup-sayup adzan ashar terdengar bersahut-sahutan. Aku menunggu, mau apa dia? Melanjutkan perjalanan atau ...

Motornya berbelok ke pelataran sebuah masjid. Aku megambil tempat di sampingnya, ruku dan sujud bersama seorang imam.

Aku mendahuluinya pergi ke tempat tujuannya, meliuk-liuk bersama partikel udara untuk kemudian sampai di sebuah desa nun jauh di atas bukit. Di sana sudah berkumpul banyak orang, penduduk desa setempat, kebanyakan adalah para pencinta bumi. Lelaki itu datang bak pahlawan, duduk di kursi yang telah disediakan lalu mulai menuliskan sesuatu di kertas plano besar yang memang telah disiapkan untuknya. 

Malam harinya, ketika perjalanan malam telah mencapai setengahnya,lelaki itu masih menghadapi komputernya, memasukkan angka-angka dan menulis sesuatu. Ia baru tertidur menjelang dini hari dan bangun stelah adzan shubuh berkumandang lama. Mendekati iqamat lelaki itu tergopoh-gopoh meraih hemnya dan memakai sarungnya menuju ke mushala dekat rumah.

Aku geleng-geleng kepala dibuatnya.

@@@

"Hai ..." lelaki itu menyapamu di tangga, "Telat juga? Tumben." ujarnya setengah menghina, setengah tertawa. Lelaki itu baru datang ke kampus.Kamu meliriknya sedikit.

"Kamar mandi lantai 2 sedang dibersihkan. Siapa bilang aku telat?" ketusmu lalu mendahuluinya masuk ke kelas. Senyum lelaki itu pudar. Tak lami aku melihatnya mengikutimu lalu menjajarimu.

"Tugasmu sudah selesai?" tanyanya sok ramah.

"Menurutmu?" jawabmu pendek. Aku tertawa dari jauh.

Lelaki itu tersenyum hampa lalu menggaruk rambutnya yang mendadak gatal.

"Iya, aku belum sempat mengerjakan kemarin aku ada acara ..."

"Diamlah, sudah ada dosen." sambarmu cepat lalu masuk ke dalam kelas. Lelaki itu duduk beberapa meja di belakangmu, menatapmu dari jauh. Aku juga duduk di sampingnya, berbisik pelan di telinganya:

"Terlalu banyak perbedaan di antara kalian." sinisku. Lelaki itu tersenyum satire.

"Kecuali dalam cinta, lihat saja nanti."
----

Baik sampai sini dulu CUT ( heheh)

apa yang bisa kalian tangkap dari sebuah status selain  mengomentarinya ?? adakah kalian memahami ala kulli haal ??
kalian pasti memiliki penilaian dengan opini kalian masing-masing, namun disini saya akan mencoba menelaah lebih dalam bagian dari refleksi facebookers yang satu itu eh yang satu ini heheh. 
tapi saya tidak ingin di ruangkan dalam dimensi komplen dengan standar kapasitas yang rumit ya hehehe karena saya bukan termasuk orang yang berada pada kapasitas rumit, alias saya adalah orang biasa-biasa saja.

1). 
Kalimat syair yang mengulas sebuah kejadian seseorang yang ia lihat, terjebak pada sebuah ruang kotak, pertanyaannya kenapa ruang kotak ? ga ruang segitiga ? atau memilih diksi ' ruang sempit ' aja. nah menurut analisa saya penulis memilih diksi ruang kotak adalah sebagai suatu permisalan dimensi yang stagnan dan wajar, yang sering dialami orang dalam keadaan secara keumuman, jika anda berada dalam sebuah ruang kotak apa yang anda lihat ? tak lain adalah dinding, atap dan alas, mereka akan tersekat pada sebuah ke jumudan  (keterbatasan pemahaman), terbatas dengan pandangan yang terhalang 3 elemen dimensi tadi, nah penulis memisalkan sebuah kecenderungan bahwa kejadian yang ia lihat adalah seseorang yang tidak memahami hal lain selain yang ia rasakan, tidak ada sebuah wawasan yang keluar dari keadaan yang ia alami, tidak ada solusi dan hanya seperti itu adanya. sehingga terkorelasi dengan kalimat setelahnya " padahal takdir serupa partikel udara yang bergerak". sebuah makna yang menunjukkan adanya pengingkaran atau bertolak belakangnya subyek yang di lihat dengan kenyataan yang sebenarnya, ulasan takdir adalah partikel udara adalah permisalan suatu hal yang bisa berubah dalam hitungan detik tanpa diketahui kapan perubahannya. jadi disimpulkan bahwa ini adalah sentilan atau kritisi dari sebuah fenomena yang penulis lihat bahwa subyek terjebak pada suatu kondisi sehingga merasa apa yang di alaminya merupakan  takdir yang tidak bisa berubah / takdir yang tidak bisa dia ubah karena ketidak sadaran atau ketidak pahaman subyek itu sendiri. kemudian penulis mencoba memberi pemahaman kepada subyek tersebut dengan mengatakan " hai, lihat ke lapang luas apa benar bumi hanya selembar kertas"  agar subyek tau bahwa kejumudan subyek itu adalah sesuatu yang tidak benar, karena kalau saja subyek mau berusaha keluar dari keadaan tersebut maka subyek akan mengetahui betapa banyak solusi dari keadaan yang dialaminya.

2).
Kalimat yang terdiri dari lebih banyak permisalan biasanya ada makna yang sedikit penulis rahasiakan, dalam hal ini berupa sebuah kondisi privacy yang diserasikan dengan kejadian alam yang ternyata nge pas banget dengan kondisi privacy tadi, misalkan kita berada di sebuah restoran, sedangkan kita lebih banyak waktu disana untuk menikmati hidangan yang kita sukai, disaat kemudian kita merasa nyaman dengan diperdengarkan lagu yang pas banget dengan suka cita kita, apa yang kita rasakan?  tentu kita akan lebih ingin berlama-lama di restoran tersebut, dengan alasan nyaman, bahagia, damai, seakan tidak ada hal lain yang bisa memalingkan kita dari keadaan tersebut, nah penulis menukilkan kisi-kisi perasaan pribadi dengan mengaitkan kepada kondisi hujan, suara adzan dan ketenangan suasana di perpustakaan, refleknya adalah kondisi privacy penulis yang coba ia gambarkan dari keadaan alam tersebut. wallahu a'lam gambar wajah siapakah itu yang penulis maksud, dia lebih tau heheh

3).
Penulis menyampaikan sebuah saran kepada pembaca bahwa rutinitas dan kesibukan yang membuat waktu terasa singkat terkadang membuat kita kurang menikmati hari-hari tersebut, nah solusinya adalah penulis mengajak pembaca untuk sejenak meninggalkan rutinitas tersebut dengan menuju ke tempat yang penulis sukai yaitu perpustakaan dengan semua dimensi dan kondisinya, karena menurut penulis disana tuh nyaman dan sangat bisa dinikmati. (intinya dia nyari temen di perpus heheh)

4).
Korelasi antar status uppdate dari hari kehari penulis sangat jelas bahwa penulis berusaha menepis semua kesibukan dan beban berat studinya dengan kesabaran, mencoba memberi keseimbangan dengan cara ' mewarnai kesibukannya dengan menepi, mencari ruang pendukung yang tetap mencocoki bagian dari hajat kesibukannya tersebut sembari refresing, kelihatan banget tuh polanya seperti pepatah kata mengatakan ' menyelam sambil minum soft drink' heheh

5).
Penulis dapet wawasan baru karena ternyata purnama disini dengan purnama di new york itu beda, ya bedalah masa ya beda donk. hehehehhe baru tau dia.

6).
ini semacam tulisan non fiksi yang di fiksikan atau pengalaman pribadi ketika sedang melakukan spionase kepada seseorang yang penulis kagumi, tanpa membahas siapakah gerangan yang di ceritakan hehehhe ( anti a'lamu fi umuri kalaamuk )

Nah itulah sisi beda dari status Zi di banding status facebookers yang lain, dan ternyata benar dia anggota FLP angkatan kesekian hehehe, sekian dan terimakasih atas inspirasinya sehingga saya merasa terbantu, dan berharap mendapat inspirasi untuk selanjutnya dan selanjutnya.









SINOPSIS NOVEL "SANG UTARA"


Ini adalah kisah yang tersisih dari jelajah sejarah, seorang penyair terkenal yang hilang jejaknya di zaman penjajahan belanda, pria yang terlahir di minagkabau ini namanya adalah Ghusin Alamsyah bin Yazid bin Salim bin Datuk Haji al Minangkabawi bin Rozaq al Turky
Ghusin adalah sosok penyair fenomenal di zamannya, namanya di puji dan dielukan banyak orang karena kepandaian dan keahliannya dalam mengolah kata dalam syair atau pantun, khususnya gadis-gadis yang dibuatnya terkagum-kagum, salah satu syair yang paling terkenal adalah “ Ranting Kecil Nun Sejauh Utara dan Selatan” syair yang ditulis di daun lontar dengan bahasa melayu sebanyak 99 lembar itu adalah satu-satunya warisan sepeninggalnya yang berisi pantun nasehat, pantun cinta, syair kritik sosial dan catatan biografinya, ia meninggal setelah peluru tentara Belanda menembus tubuhnya di tahun 1864 M tepat di usianya yang ke 40 tahun di Bukit tinggi Sumatera barat.

99 lembar lontar itu adalah salah satu dari sekian banyak tulisan karya Ghusin, namun belanda telah melenyapkan sebagian besar karyanya karena di curigai sebagai bahasa kode pemberontak bonjol paderi, setelah sepeninggalnya 99 lontar itu ditemukan oleh seorang tentara Belanda bernama William Koenradd lima tahun setelah Ghusin meninggal, William Koenradd yang pada waktu itu sedang berburu, menemukan lembaran-lembaran lontar dalam sebuah gubuk usang di tengah hutan, karena William sangat menyukai benda-benda unik ia pun menyimpannya, sampai ia memiliki istri bernama Puti Padusi seorang wanita pribumi asal Riau, yang kemudian lembaran lontar tersebut di hadiahkan kepadanya.
Dari Puti Padusi inilah kemudian lembar lontar tersebut di revisi kembali karena tulisan nya sudah hampir tidak bisa terbaca lagi, berkat keahlian Puti merevisi perkata demi kata, lontar tersebut pun akhirnya bisa kembali terbaca dan diberi nama Lontar Sang Utara, keinginan Puti Padusi untuk menelusuri sejarah Ghusin mendapat simpati suaminya, William Koenradd, demi cintannya kepada Puti ia rela menelusuri jejak sejarah Ghusin sampai di asal kelahiran Ghusin di minang kabau selama tiga tahun, wal hasil berkat William dan Puti ini pulalah diketahui sejarah dan jejak kisah Sang Utara, selain juga didapati keterangan biografi di lontar itu sendiri.

Konon Ghusin adalah anak dari seorang saudagar kaya bernama Yazid, garis keturunannya adalah dari niagawan sekaligus seorang pelaut dari tanah melayu bernama Salim anak Datuk Haji Minangkabau, sedangkan moyangnya berasal dari pedagang Turki yang menetap di pulau andalas. Walaupun dia terusir dari keluarganya karena menikahi seorang gadis desa bernama Syarifah yang tidak direstui orang tuanya, namun Ghusin mampu mengatasi keadaan tersebut, dari nol dia memulai usaha berdagang kayu arang, darah pedagang dari moyangnya memang sangat terlihat, terbukti hanya dalam waktu tiga tahun ia mampu membuatkan rumah untuk istrinya, dan menjadi salah satu orang terkaya di kampungnya, perdagangannya pun berkembang dengan pesat.

Disela kesibukannya ia menulis syair-syair nasehat dan syair cinta untuk sang istri yang sangat ia kasihi, ia juga sempat memiliki beberapa murid yang diajarinya menulis bahasa melayu menggunakan tulisan arab pegon, dia adalah orang terpelajar di kampungnya, berwibawa, memiliki jiwa sosial tinggi dan sangat dermawan, semenjak ia berhasil dengan usaha dagangnya, ia sering membagikan sebagian pendapatannya untuk masyarakat kampung yang memang pada waktu itu dibawah garis kemiskinan karena penjajahan, syair-syairnya yang mengkritisi feodalisme adalah salah satu contoh kepedulian Ghusin terhadap keadaan lingkungannya, namun ia sering dicekal karena di tuduh menentang pemerintahan Belanda.

Kebahagiannya bersama istri tak bertahan lama, ketika istrinya yang sedang hamil empat bulan harus meninggal karena sakit malaria, semenjak kematian istrinya tersebut Ghusin menjadi berubah 180 derajat, sikapnya pun mulai aneh, perdagangannya bangkrut, rumah yang selama ini menjadi kebanggan pun dijual untuk bertahan hidup, ia tak lagi berdagang dan benar-benar miskin dan tak memiliki semangat hidup, banyak yang mengira hal itu terjadi karena merasa kehilangan istri yang sangat ia cintai, ada pula yang menganggap dia gila karena bangkrut dan bermacam opini khalayak pada waktu itu.

Keanehan Ghusin semakin terlihat ketika gaya hidupnya berubah menjadi seorang pengembara dari satu daerah ke daerah lain, ia tidak memiliki rumah dan sering dijumpai tidur di hutan dan perkebunan, namun keanehan tersebut tidak mengurangi eksistensinya sebagai penyair, dia memiliki keahlian sastra yang luar biasa, pernah suatu hari dia menuliskan surat untuk teman karibnya yang bernama Sanusi, ia mengeluh dan meminta tolong kepada Ghusin menuliskan surat untuk gadis pujaanya, gadis yang disukai temannya itu adalah seorang putri saudagar kaya yang terkenal kecantikannya, banyak pemuda dari kalangan sesama saudagar bahkan bangsawan yang sudah melamar gadis tersebut namun tidak ada yang bisa mengambil hatinya, Ghusin menulis surat pesanan temannya itu, temannya menyuruh pembantunya untuk menyampaikan surat tersebut kepada gadis pujaanya, setelah gadis itu membaca surat yang berisi syair pujian kepadanya dan menyatakan ketertarikannya, putri saudagar itupun terkagum-kagum dan jatuh hati kepada teman Ghusin tersebut.

Lembayung di hamparan laut, gayung pun telah bersambut, demikian surat itu telah menghantarkan temannya menuju pelaminan pernikahan dengan gadis anak saudagar kaya itu.
Suatu hari Ghusin melantunkan syair dengan lagu yang sangat indah, ketika ia melantunkan syair tersebut, lewatlah lima wanita yang diantaranya adalah istri seorang pelaut bernama Mandah, karena terhanyut oleh lantunan syair Ghusin, mandah menjadi selalu ingin mendatangi tempat dimana Ghusin melantunkan syair, dengan tanpa sepengetahuan Ghusin, ia mendengarkan secara sembunyi-sembunyi, sampai suatu saat suami Mandah tidak menemuinya di rumah, ia mencari nya kemana-mana namun tidak menemukannya, sampai ketika itu suami Mandah mendapat laporan dari teman-temannya, bahwa ada yang menlihat istrinya sedang berada di ujung kampong bersama Ghusin, sedangkan Ghusin sama sekali tidak menyadari jika Mandah secara sembunyi-sembunyi mendengarkan lantunan syairnya, dengan penuh amarah suami mandah mendatanginya dan menghajar Ghusin, seketika itu pula suami Mandah hendak membunuh Ghusin, ketika suami mandah menghunus badiknya untuk menikam Ghusin, tidak disangka Mandah merebut badik itu lalu menancapkan keperut suaminya sendiri untuk membela Ghusin, suaminya tersungkur bersimbah darah, Ghusin yang melihat kejadian itu tepat didepan matanya bermaksud menolong suami mandah yang telah sekarat ke tabib, namun sayang nyawa suami mandah tidak dapat tertolong lagi, Mandah pun menghilang, dan diketahui beberapa hari kemudian Mandah bunuh diri dengan menjerat lehernya, tertuduh pembunuh suami mandah adalah Ghusin, ia pun di tangkap oleh pihak kepolisian belanda dan di jebloskan ke penjara untuk di adili.
Keluarga Suami Mandah tidak terima dengan kejadian itu, di suatu malam mereka beramai-ramai datang ke penjara tempat di tahannya Ghusin, lalu menyuap sipir penjara untuk menghajar Ghusin beramai-ramai, sebelum hal itu terjadi, Ghusin mengetahui dari teman-teman sesama tahanan bahwa Ghusin hendak di celakai bahkan bisa jadi terbunuh malam ini, Ghusin terpaksa lari dari penjara tersebut untuk menyelamatkan dirinya, kericuhan pun dibuat dan terjadilah huru hara di penjara, banyak tahanan yang menggunakan kesempatan itu untuk ikut melarikan diri, penjara kepolisian belanda itu pun dibakar, 20 tahanan ikut terlibat, 7 sipir tewas dan 2 sipir lainya terluka dalam kericuhan malam itu.

Ghusin pun menjadi buronan kepolisian belanda, gambar wajah Ghusin di sebar kepelosok kampong sebagai penjahat buronan yang berbahaya, di sudut-sudut keramaian khalayak berbincang membicarakan Ghusin, isu pun mulai menyebar sehingga mempersempit gerak Ghusin di pelarian, bagi Ghusin tidak ada lagi tempat aman kecuali di hutan, ia pun bergegas menuju hutan rimba yang hampir tidak pernah di sambangi oleh manusia karena terkenal angker dan menakutkan, bermacam mitos tentang hutan itu mulai dari isu siluman harimau, hantu tanpa kepala dan lain sebagainya, tidak menyiutkan nyali Ghusin untuk masuk kedalam hutan larangan tersebut.
Selama di persembunyian, Ghusin tetap berkarya, ia menulis di daun-daun lontar, membuat syair-syair pengaduan dirinya atas penderitaan yang ia alami selama ini.

ia mengirim surat kepada temannya Sanusi untuk meminta bantuan, suatu malam Ghusin menyelinap masuk ke kampung untuk mengantarkan suratnya kepada Sanusi, iapun berhasil meletakkan surat itu di depan pintu teman karibnya itu.

setelah itulah Sanusi sering menyambangi Ghusin di hutan secara sembunyi-sembunyi.
****
Setahun telah berlalu, pelarian Ghusin di belantara larangan masih tertutup rapat, tidak ada satu orang pun yang tau kecuali sahabatnya yang tak lain adalah Sanusi. Suatu hari ia mendapat kabar dari Sanusi bahwa peperangan gerilya telah di mulai yaitu di bawah pimpinan yang mulia Tuanku Imam Bonjol, dari pembicaraan itu Ghusin dan sanusi berniat untuk ikut mendukung perlawanan rakyat di bawah pimpinan Imam bonjol, mereka berniat bergabung dengan golongan paderi untuk melawan tirani penjajah.

Mereka pun mulai berdiskusi, membuat rencana perekrutan masa melalui surat-surat seruan kepada para pemuka kampung agar mendukung dan bergabung melawan Belanda, untuk menyamarkan identitas, Ghusin menyamar sebagai seorang utusan Tuanku Imam Bonjol yang bernama Dato Omar yang sekarang berada di hutan untuk menghimpun kekuatan. Perekrutan masa dilakukan secara berhati-hati, mereka yang hendak bergabung harus di seleksi dengan ketat untuk menghindari pengkhianat terselubung dari mata-mata Belanda.

Masa berhasil di himpun di hutan larangan tersebut, untuk bergabung dengan pasukan Bonjol paderi di Pariyaman, 200 orang yang terhimpun dibawah kepemimpinan Ghusin dan Sanusi bergerak menuju ke markas Imam Bonjol untuk membantu perlawanan penjajahan Belanda, yang waktu itu menduduki tanah minang. namun ketika mereka belum sempat bergabung dengan pasukan Bonjol, belanda mencium rencana mereka, dari mata-mata belanda yang ternyata adalah adik ipar sanusi sendiri.

Pasukan Ghusin dihadang oleh pasukan belanda di perjalanan, peperangan pun terjadi yang mengakibatkan pasukan Ghusin kocar-kacir, pasukannya dikepung, di hujani peluru dari atas bukit, korban berjatuhan, 10 orang tersisa dan berhasil melarikan diri termasuk Ghusin dan Sanusi.

Sampailah pelarian Ghusin dan pasukannya di bukit tinggi, namun malang tak bisa di elak, keberadaan Ghusin di bukit tinggi juga sudah diketahui oleh pihak Belanda, penyergapan dilakukan, pasukan Ghusin bertahan di rumah-rumah warga setempat, bertahan selama 25 hari, setelah kemudian, sebagian dari warga juga ikut membela pasukan Ghusin, belanda pun menghujani dengan meriam sehingga rata dengan tanah, pasukan ghusin ditangkap, tinggal Ghusin dan Sanusi yang tersisa bersembunyi di sebuah lembah dimana menjadi tempat terakhir Ghusin sampai akhir hayatnya, Ghusin dan Sanusi tewas diterjang peluru panas pasukan Belanda setelah pengepungan selama 2 hari di lembah tersebut.

Jumat, 07 November 2014

Sinopsis "Sangka"

Kisah ini adalah serpihan dari sisi kehidupan sebuah zaman, kisah ribuan byte dari perangkat lunak manusia yang disebut hati. Penuh emosi, harapan, obsesi dan segi-segi haru biru

Iya…kisah manusia yang memiliki keyakinan bahwa ketulusan adalah perasaan multi dimensi yang luar biasa, untuk cinta, penantian, kesabaran, kebangkitan, dan pencarian diri.
Aku tak menulis apa yang mereka tulis…walau mungkin apa yang mereka rasa adalah sama dengan apa yang ku tuliskan. Semata memberi sumbangsih pada siapa yang membacanya, atau hanya sekedar mereka tahu tentang sisi kehidupan yang tersudut dari zaman ke zaman sebagai pelajaran atau inspirasi, atau apapun itu.

Perasaan adalah asas dari tulisan ini, berbalut sugesti dan kejiwaan airmata, dari basah menjadi kering dan dari kontraksi batin seperti musik kecapi perindu, nada-nada bertingkat melambangkan kedalaman hati dan ekspresinya, namun tetap apa adanya dan manusiawi.

“ Sebenarnya manusia hanya akan berubah dengan 3 hal, yaitu karena cinta, benci, dan ketakutan…”

Ada pesan dalam tulisan ini…kepada pemilik hati, pemilik perasaan lembut, pemilik rindu, pemilik harapan, pemilik perjuangan, pemilik cinta, dan pemilik ketulusan. Karena mereka yang tak memiliki itu semua adalah ketika ia terburai dari kesadarannya…dan jika itu terjadi ia tak akan pernah bisa memahami tulisan ini, atau bahkan tak mampu memahami kehidupannya sendiri.

Selamat datang di hamparanku…hamparan peraduan cinta yang luar biasa… hamparan tempat berbagi dan bertatap mata… hamparan persaksian… hamparan pasir putih tempatnya bercanda ria dan bercumbu. Bawalah sesuatu yang bisa menikmati setiap kata, karena itu sangat kau butuhkan.



15 tertanggal rembulan tepat di tengah langit… ditahun sejengkal setelah kelana bergegas
Malam sangat sepi karena hati sedang kalut… tanpa angin sepoi dan seteguk kehangatan…
Senyap nestapa tiada hasrat… dalam hampa karena memang telah kosong karena usia
Kekecewaan memenuhi bendahara jiwa berbentuk locker berperisai…
Mata menatap siluet ranting-ranting kecil yang membelah rembulan… dan hingga terlelap

Aduhai elemen sukma yang membentang seperti langit biru… kecerahan warnanya membuat mata hati terbelalak dan harus memandangnya, walau mata dzahirnya terpejam… sebersit kesadaran nisbi menyentak tentang keberadaanya di alam lain yang tenang…sebuah alam mimpi penuh warna dan kedatangan seraut wajah
Mimpi membawa bahana rasa hati yang tertahan oleh sekat dunia yang terhimpit didasar nya.

Apa yang kau katakan ketika ia hadir begitu saja…?
Dan ternyata kau memiliki perasaan yang sangat kuat sehingga kemudian bersambut
Perasaan yang lahir dari keajaiban atau kerinduan dan harapan
Sedangkan semua sudah berlalu darinya masa silam yang sangat membuatnya berat melupakan dan meninggalkan semua

Dan ia harus memaksakan diri untuk berbuat sesuatu yang terbalik dari kenyataanya
Karena ada harapan masa depan yang segera menjemputnya dengan cinta sejati dan segenap ketulusan …dan saat itulah ia merasa ada dalam dilema….

Sementara ia harus melupakan masa terindah yang lebih dulu mewarnai hatinya
******
Dan sisi berbeda dari harapan yang terhulur didepanya dan menjanjikan warna lain yang sama sekali belum pernah ia ketahui bahkan duga sebelumnya

Irama malam semakin melarut… ada di sebuah obyek terdekat dengan ilham atau keinginan kuat menggelora… deru membangun kisah singkat dan terskenario di alam mimpi yang subhat ( samar )… degub jantung, nafas memburu, bersatu dalam keasyikan tiada kesadaran saat mimpi itu… hanya khayalan kesenangan yang meledak-ledak seperti meriam berdentuman dan memori merekam semuanya.

Kala mimpi menyibak makna terkurung sanubari…. Kerinduan kedamaian pun menjadi misteri… selayaknya hati berasa iri… masa depan lebih indah tertiti…
Berjuta khayal melintang terbayangi masa lalu… namun masa yang berlalu tak mampu merubah semua… karena masa depan lebih nyata terbukti menjadi kisah tanpa sadar yang lebih dewasa dan bermakna

Aduhai pemilik jiwa dan jantung yang berdetak…
Hati adalah saksi dari semua dilema dan perasaan yang terpaku…
sehingga
Masa lalu apakah ia akan kembali dan mengubah semua serta mengabulkan harapan-harapan…? Sedang masa depan berkata tidak

Silogisme Perasaan dan Pilihan

Aku memang memberimu sedikit ruang untuk menata dan memperbaiki keadaanmu, bukan sebuah penghianatan yang berulang, kamu tau kan? setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan karena kamu terlarang untuk mencontoh kebaikan orang lain, dan nonsense " be your self".

Kekacauan berfikirmu itu seperti orang terkena candu, yang mewajibkan diri dengan nikotin atau seperti anak kecil yang merengek tiap hari untuk setusuk es krim, sedangkan kamu tau bagaimananya, kamu tau setelahnya, dan terlebih kamu tau resikonya. jangan menafikan kelemahan dari sebuah kemampuan menghadapi resiko, jika dirasa kecil nyalimu menanggung resiko maka jangan berbuat, dan berbuatlah sesukamu selama kamu bisa menanggung resikonya, namun jangan salahkan atas hasil yang kau petik terlepas dari baik dan buruknya, karena itu pilihanmu.

Kamu berharap akan hadirnya cahaya purnama, namun ketika ia tiba justru kamu berpaling kepada lilin, hanya karena ia bisa kamu sentuh, namun terpikirkah olehmu,bahwa ia tidak akan bisa selamanya menerangi ?, karena lelehan lilin adalah pendeknya waktu, sedangkan penuhnya purnama akan terjaga dari masa ke masa.

Tidak ada pertentangan apapun didalam sebuah dilema, kecuali ia tak bisa membuat keputusan yang pasti, silahkan jika memang harus memilih yang paling ringan kepedihannya dari pada kamu terdiam menggantung hati tanpa keputusan, karena luka hanya butuh obat secepatnya agar luka tak semakin parah, dan jangan salahkan obat yang membuat lukamu perih, karena perihnya luka yang terobati mengakhiri penderitaan, sedangkan perihnya luka karena takut obat adalah kecelakaan yang berulang.

Jangan sandarkan kesalahanmu kepada kesabaran seorang pemaaf, karena itu akan membuatmu menghinakannya, dan akan membuatmu mengulangi terus kesalahan yang sama, sedangkan sakit hati yang bertumpang tindih akan membuat endapan magma bergejolak ketika meletus. jangan nafikan hati orang lain yang dengan sabar membimbing dan memperingatkanmu, bukan karena ia selalu menyalahkanmu, tapi karena ketidak relaan dirinya melihat yang tercinta berdiri diatas kesalahan, jika harus memilih antara seseorang yang menyeretmu menjauh dari jurang kehancuran atau seseorang yang membiarkanmu melakukan apapun di pinggir jurang kehancuran? gunakan hatimu untuk memilih.

Jika aku harus melakukan pemaksaan agar kamu terjauh dari neraka, maka ada kalanya aku bisa gunakan cemeti, namun jika aku harus memaksamu menuju syurga, aku tidak tahu alat apa yang ku pilih, karena kenikmatan hanya butuh seruan, tanpa harus mengancam.

Kamis, 06 November 2014

Mengais Inspirasi Yang Tercecer

Kita sering mengalami keadaan ketika  menemukan ide / inspirasi untuk menulis, tapi pas kita ga sikon banget, entah ga bawa alat tulis kek, ga bawa laptop kek, ga bawa hape kek, inspirasi itu kadang kalau cuma untuk di ingat pasti dijamin kabur atau bahkan hilang dari ingatan kita, inspirasi yang boleh jadi jarang kita dapatkan harus hilang tanpa bekas hanya karena ga sikon, padahal mungkin saja inspirasi itu tidak datang dua kali, jadi kalau bisa langsung kita catat mungkin akan menjadi ide cemerlang untuk karya tulisan kita, nah itu yang sering saya alami juga sobat, setelah belajar dari pengalaman akhirnya saya kemana-kemana harus selalu bawa alat tulis, walaupun cuma buku kecil dan pensil agar setiap ada inspirasi saya bisa tuliskan inspirasi tersebut sehingga setelah itu kita bisa kembangkan menjadi sebuah tulisan.

Namun lain halnya ketika kita sudah banyak inspirasi dan kemudian saking banyaknya inspirasi yang ditulis sampai ga sempat lagi mengembangkannya, nah ini juga perlu di antisipasi, dari pengalaman yang sudah-sudah saya justru sering menampung dulu inspirasi yang saya dapatkan dengan mencatat dan setelah dirasa cukup untuk kita kembangkan sesuai kapasitas kita, baru eksekusi inspirasi tersebut ke dalam tulisan, berikut adalah ide tercecer yang saya kembangkan menjadi tulisan yang saya rangkum dalam sebuah Kumpulan Ide yang Tercecer.

Sinopsis 1 :

"Jogja Semakin Panas..." bahkan ketika mandi, air pun tidak sesejuk biasanya, anget-anget kuku, wah... masa baru beberapa menit mandi, keringat sudah mengucur lagi hadeuhhhh....!!! jadi teringat saat dulu di semarang, waktu acara senam bersama di simpang lima, senam masal yang bertujuan agar badan sehat dan stamina fit malah berubah menjadi tragedi lomba pingsan masal " alamaaaak" beruntung aku cuma pusing, hal itu berawal dari pemandu senam yang datang kesiangan, sedangkan masyarakat yang ikut senam sudah mulai berjibun di lapangan, semula agenda mulai jam tujuh pagi eh.. baru mulai jam sembilan pagi, walhasil matahari di musim kemarau sudah setinggi tombak dan karena situasi sekitar adalah jalan raya yang sudah mulai bising menambah stres lautan massa yang memadati simpang lima, sehingga ketika acara senam masal yang di iming-imingi doorprize menarik itu di mulai tepat di terik matahari setinggi tombak yang sudah cukup menyengat, sampai terjadilah tragedi "Pingsan Masal", yang lebih parah adalah panitia tidak menyiapkan tenaga medis yang memadai untuk menanggulanginya, dan akhirnya justru peserta yang lain ikut secara spontan menjadi tenaga medis, suasana yang riuh dan panik baru bisa diatasi sekitar sejam kemudian ketika petugas medis bantuan dari rumah sakit terdekat mengambil alih, akhirnya acara dibatalkan dan panitia membagikan doorprize secara acak kepada para peserta, huffft... nyesel ikut acara masal kayak gitu yang ga prof banget, saya menjadi salah satu peserta yang memprotes acara tersebut dan meminta panitia bertanggung jawab atas even tersebut, setelah mereda panitia pun menyampaikan permohonan maaf kepada ribuan peserta tersebut dan menjamin para pingsanner untuk mendapat perawatan medis dan harus dapet doorprize. yang menjadi pikiran saya selanjutnya adalah " bagaimanakah nasib pemandu senam yang datang kesiangan tersebut ?" tentu akan menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam tragedi waktu itu, ternyata usut punya usut pemandu senam tadi hanya perwakilan dari pemandu senam yang sebenarnya, karena ternyata pemandu senam yang sebenarnya sedang sakit karena otot punggungnya cidera karena terlalu banyak jadwal senam hahahahhahahhaha hadeuuuuhhhh.... baru kali ini saya mengalami kejadian unik kaya begini.

Sinopsis 2 :

Hari ini saya di sebuah tempat dimana para pemuda pada ngumpul, di sebuah kedai susu yang cukup masyhur bagi kalangan muda mudi di wilayah jogja, kebetulan selain kedai susu itu memiliki menu istimewa  tapi juga murah meriah, sebenarnya yang bikin tambah ramai pengunjung adalah pelayan di kedai tersebut adalah di dominasi cewek-cewek cantik dan hotspot area super kenceng sampai 3000 Kbps.

Ketika saya masuk ke kedai tersebut, biasa lah coba-coba, karena dah masyhur banget kedai itu, seperti kedai yang lain begitu saya masuk di sambut dengan senyum dan ramah tamah pelayan kedai, mulai ada yang mempersilahkan duduk dan memberikan lembar menu sampai petugas yang nyamperin untuk menjelaskan menu yang kita pesan, nah pas saya lihat lembar menu saya terkejut dengan daftar menu yang semua ga nyambung, Paket Istimewa : Susu Original manis + Nasi goreng Medan + Roti Keju Bakar = Rp. 25.000, Paket hemat : Susu Original + Spagethi, dan yang lebih parah menu paling murah adalah spagethi cuma 7000 perak...haaaahhhhhhh....???? Roti tawar di tabur keju justru harganya 15000 sedangkan spagethi cuma 7000, sontak saya tanya ma pelayan, mbak ini beneran menunya ?? nah pelayan itu tersenyum dan jawab " iya mas ini menu istimewa selama promo karena untuk menu sebelumnya sudah di revisi " jiaaah... tambah terkaget-kaget saya, tapi akhirnya dengan terpaksa saya pesan paket hemat karena lebih muraaah heheheh.
Setelah dari kedai itu saya jadi berfikir, ternyata masakanya juga ga istimewa banget, dan menunya juga ga pada nyambung, hemat saya mengira bahwa mereka itu pada nongkrong karena tempatnya strategis buat mojok, sembari gratisan internet dan juga karena buat cuci mata liat pelayan cantik-cantik, wah kena branding marketing mereka eh...saya juga heheh... namun justru dari sana ada ide baru untuk mengembangkan  usaha kuliner kita walaupun ga perlu pake cewek cantik, tapi merupakan revisi dari itu semua, yang jelas Branding brooo....!!!!

Demikian Sobat, contoh tulisan spontan dari pengalaman yang terinspirasi dari kejadian sehari-hari, beginilah tips untuk mengasah ketajaman tulisan kita agar refleksinya terlatih, sehingga kita tidak canggung mengembangkan inspirasi yang kita dapatkan di suasana dan kondisi apapun.


Tips Menulis Di Saat Bosan

Banyak diantara pemula seperti saya ketika melakukan proses menulis sebuah karya di hinggapi perasaan bosan dan jenuh, tidak tau apa yang harus di tulis, atau sepenggal tulisan yang tidak berkelanjutan dikarenakan blank dan ga ada ide lagi, atau memang sejak awal udah trouble starting, nah kali ini saya akan berbagi tips kepada para sobat pena tentang " Tips Menulis Di Saat Bosan" Versi Mustthoni.

Yang perlu kita garis bawahi adalah, menulis bukan disaat kita memikirkan sesuatu saja, atau sengaja mencari-cari tema, ini justru ga efektif dan kerap buntu, sehingga kadang kurang greget karena ga nemu-nemu ide, nah baiknya menulis itu di landaskan pada sebuah ekspresi / emosional perasaan kita, sehingga  tidak perlu repot cari ide untuk tema tulisan, karena cukup tulis apa yang kita rasakan saat ini, bukan mencari. walaupun nanti ketika kita sudah terbiasa menulis maka ga mikir pun akan kepikiran, ga nyari ide pun akan terbesit ide, jadi jangan khawatir kehabisan ide.

Ok sobat pena, langsung aja kita ke TKP, kita simak bareng-bareng Tips nya agar kita ga kehabisan ide saat bosan / males, yaitu sebagai berikut :

1. Tulis Kebosanan

Pertama yang harus sobat ingat adalah ketika kita menulis, pasti kita lebih dulu bingung mau menulis apa, nah ketika itu terjadi segeralah menulis apa yang kita rasakan misalkan " aku bingung mau menulis apa" dan tambahkan alasan bla bla, dengannya kita justru dapat ide dan sudah memulai menulis, artinya satu paragraf sudah siap untuk mulai dikembangkan ke paragraf lain.

2. Luapkan Alasan Kebosanan Kita

Tentu yang kedua yang harus kita lakukan adalah melepaskan semua uneg-uneg / alasan kebosanan kita secara lebih spesifik, buat kalimat sejujur mungkin dan teruslah ikuti ritmenya sampai kita benar-benar klimaks, emosi kita pasti akan lebih membara ketika tulisan tersebut anda baca berulang-ulang, sehingga memancing bawah sadar kita untuk menulis lagi paragraf berikutnya.

3. Jangan Terlalu Banyak Berfikir Kalimat Indah

Jangan terlalu berfikir kalimat yang indah-indah dulu, tulis apa adanya, karena yang terpenting dari menulis adalah ekspresi anda yang secara total anda luapkan, nanti setelah selesai baru editing sesuai keinginan kita, sekarang yang penting plong dulu.

4. Buat Kalimat Penutup

Setelah kita rasa plong , sampai pada cara berikutnya, yaitu kita tinggal menulis pragraf penutup, tulis ringkasan dari perasaan anda dan keinginan anda terhadap keadaan yang di alami, dan buat akhiran, Misal : " Jenuh dengan perasaan ini berharap aku bisa (isi keinginan kita)" lalu selesaikan.

4. Baca dan Mulailah Editing

Setelah tulisan anda selesai, akan terlihat semua dengan jelas maksud dan tujuan tulisan kita, yaitu meluapkan kebosanan dan menginginkan keluar dari kebosanan tersebut, sekarang anda tinggal mengedit kata-kata yang kurang pas atau kurang proporsional, kita bisa tambahkan atau kurangi, sesuai dengan harapan kita agar kalimat terlihat terstruktur, atau jika kita lebih menikamati dengan gaya apa adanya, kita cuma perlu menerapkan dramatisasi di paragraf yang di rasa perlu saja.

5. Buat Sampul / Cover Di Setiap Judul Tulisan

Lakukan Tips menulis tersebut dalam setiap keadaan kita, sedih, susah, senang, rindu, marah, galau, kosong, dan lain sebagainya, sebagaimana tips di atas, dan buatlah setiap judul tulisan kita dengan cover grafis yang anda sukai, hal ini sangat penting karena berpengaruh pada visualisasi kita, dengan memberi cover indah yang kita sukai maka anda akan merasa terus bersemangat untuk menulis lagi dan lagi dan lagi.

Nah begitu caranya mengelola sebuah tulisan ketika kita bosan, jangan beralasan anda tidak menulis karena bosan atau malas, karena justru kita bisa mendapatkan ide mrnulis dari perasaan bosan atau malas itu sendiri, jadi ga usah khawatir kehabisan ide.

Demikian Tips Sederhana Menulis di Saat bosan, semoga bermanfaat, tips diatas merupakan pengalaman pribadi, sehingga sudah dipraktekkan dan sejauh ini berhasil,  tetap menulis dan jadikan tulisan kita sebagai bagian dari sejarah kita, Selamat Mencoba dan Selamat Menulis.

Pahlawan Kepalsuan


Dengan keangkuhan manusia yang merasa berharga dengan kemuliaan materi dan statusnya…seakan membelah diri menjadi monster atau alien…membanggakan diri walau sejatinya penuh congkak dan kesombongan, aktualisasi diri menjadi obsesi…memamerkan kemesraan romantisme hidupnya seakan nabi atau malaikat..mereka tak sadar bahwa harga diri adalah lidah dan perbuatannya…sedang ia telah menjualnya kepada syetan hingga tiada tersisa.
ada pampangan nama di dadanya…ada secoret tanda tangan orang ternama di setiap lembaran hidupnya…namun najis di hatinya membuat ia seperti babi atau yg serupa dengan itu…pekerjaanya adalah merapikan jas dan dasinya, berbagi senyum disekitar kalangannya…namun sinis kepada jelata..
tugasnya meraup keuntungan materi dari manapun asalnya…tiada cerminan yg mampu menyadarkan wajahnya yang penuh sayatan pisau operasi plastik…karena wajah sebenarnya bukan yang ia kenakan saat ini…namun jauh di lubuk hati dan hasrat yang berwujud raksasa.
setiap hari ia merogoh saku bajunya, khawatir tiada lagi uang untuk membeli mimpi dan hayalan…khawatir tak lagi bisa menyuap dimensi yang bisa merusak reputasinya…jiwa dan akalnya penuh intrik dan kegilaan atas jabatan…sungguh obsesi sinting yang membuat glamour dan gaya hidup mewah semakin merajai diri…
kepalsuan dan pengabdian..adakah nilai dari sudut mata yang terpahat kemunafikan ?
mungkin hanya Tuhan yang bisa menjebaknya dalam kehancuran…menguliti setiap kulit palstiknya yang berlapis…sampai manusia melihat sesungguh dirinya…atau kemudian ia mencoba meraih jubah putih dan beralih menjadi orang lain dan berkata ” maafkan saya ” dan keluar dari penjara beberapa hari atau bahkan menit..untuk kemudian lari dan meringis seperti kuntilanak.
huh…pejabat2 pena yang dengan paraf diatas cek bisa merebut negara dari rakyatnya… yang dengan konfrensi pers bisa mengendalikan imej berjuta mata yang menyaksikannya…dan sudah barang tentu melihat dari kejauhan. ada yg berbagi opini dengan ini dan itu…atas ini dan itu…namun hakikatnya tak mampu merubah sifat atau justru bersekutu seperti lalat. adakah pedang keadilan di meja hijau yang bersimbol neraca sejajar itu kembali terhunus tanpa pilih kasih ? lebih tepat lagi hapuslah itu dari benakmu…karena mungkin pedang itu hanya dimiliki artis dalam setiap perannya…seperti pendekar atau musasi…yang berjiwa heroik namun hanya sekedar menjalankan skenario diatas panggung.