Tulisan
merupakan bagian dari sejarah peradaban manusia, di mulai dari ditemukannya tilasan
jejak yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, yaitu di daerah
mesopotamia dan mesoamerica tepatnya berasal dari zapotec daerah mexico,
sedangkan mesopotamia lebih dekat dengan sumer kuno pada tahun 3200 SM,
kemudian mengalami perkembangan sesuai zaman, didalam ilmu sejarah menyebutkan perkembangan
tulisan di sinyalir berada di asia, walaupun terjadi perdebatan antara di mesir
kuno 3200 SM atau di china 1300 SM, tulisan yang ditemukan pada zaman itu
adalah naskah kuno yang terdiri dari 12 naskah dengan model tulisan berupa
simbol mnemonic dengan sistem ideografik. (Powell, Barry B. 2009. Writing: Theory and History of the Technology of Civilization, Oxford:
Blackwell).
Sejarah tersebut membuktikan
bahwa setiap peradaban manusia dari zaman ke zaman tidak bisa lepas dari apa
yang disebut dengan tulisan, yang sifat dan tujuannya adalah sebagai pesan,
pengingat, surat menyurat, dan sebagai ekspresi manusia sesuai dengan
peradabannya ( Rusyana 1994)
Tulisan adalah sebagai ekspresi
manusia, terlepas dari apa pesan dan maksud tujuan dari tulisan itu sendiri, dulu
ketika saya masih SMA, karakter kepenulisan sebenarnya sudah terlihat, namun
seperti dialami pemula pada umumnya, yang memiliki ekspresi dan semangat akan
tetapi ada keminderan dalam diri mereka sehingga tidak memiliki keberanian
untuk mempublikasikannya, itulah yang terjadi juga pada diri saya waktu itu.
Ada beberapa alasan yang mendasarinya, yang pertama adalah low profile, yang kedua adalah privacy,
dan yang ketiga adalah easy going
atau sembari iseng saja.
Saat ini baru tersadar, ketika saya
membongkar manuskrip saya di lemari yang sudah belasan tahun tersimpan, saya buka kembali
lembaran-lembaran manuskrip tersebut, Masya
Allah ternyata tidak menyangka bahwa tulisan-tulisan itu saya yang menulis,
saya terenyuh dan terkesan pada tulisan sendiri , akhirnya saya mulai kembali
mengasah potensi, ada perbedaan antara tulisan muda dan tulisan tua ( baca
waktu dulu dan waktu sekarang), yaitu masalah karakter bahasa, isi tulisan dan ending discription nya, dulu saya suka
dengan karya fiksi, dan sekarang saya lebih condong ke non fiksi, dulu tidak
punya akhiran yang pas, sekarang sudah mulai sesuai plot dan judul.
Sampailah pada ketertarikan saya
pada sebuah komunitas kepenulisan yang kita kenal sekarang sebagai forum
kepenulisan terbesar dan paling produktif mencetak penulis-penulis kreatif, siapa
lagi kalau bukan FLP, saya sebenarnya mengenal FLP sudah sejak awal berdirinya
kira-kira tahun 2000 an kalau tidak salah, bahkan saya sempat menggandrungi
novelnya Asma Nadia dan pernah hunting
buku beliau di Gramedia disetiap terbitnya dan sempat ingin bergabung dengan
FLP pada tahun 2004, namun karena kesibukan dan aktifitas jihad nafkah, akhirnya keinginan untuk bergabung dengan FLP jadi
timbul lenyap, apalagi ketika selalu kehilangan kesempatan OPREC FLP yang terlewatkan
karena kurangnya informasi, jadi lengkap sudah penderitaan saya selama ini,
saya jadi katak dalam tempurung di dunia kepenulisan sedangkan saya sangat
berkeinginan untuk mengembangkan potensi saya tersebut.
Banyak hal yang bisa saya tangkap
dari buku-buku karangan penulis FLP, ada yang centil seperti bahasa ABG, ada yang puitis seperti gaya pujangga
dan ada yang apa adanya, namun yang membuat saya terkesan adalah pesan moral
dan muatan keislaman yang sangat kental di dalam gaya kepenulisan penulis FLP,
inti dari semua itu adalah dakwah, iya dakwah melalui tulisan dirasa sangat
efektif, karena hingar bingar tulisan fiksi dan non fiksi sejak dulu di
dominasi oleh penulis-penulis sekuler yang jauh dari nilai keislaman, tentu hal
ini di jadikan santapan generasi muda yang memang masih labil dan mudah
terpengaruh, walhal akhirnya banyak
remaja di indonesia ini mengidap penyakit yang susah disembuhkan, yaitu al isyq’ (mabuk cinta), kita banyak
menemukan muatan pornograph di novel-novel sekuler, bermuatan apatis dan
cengeng terhadap kenyataan kehidupan, sehingga mereka jadi kerdil, mudah putus
asa dan jauh dari nilai agama serta jauh dari moralitas bangsa timur.
Kerisauan semakin muncul ketika
kebebasan pers dan dunia jurnalis menebar teror kepada islam, dengan
tekanan-tekanan politis dan intrik, hal ini menambah kecemasan yang luar biasa
pada diri saya, saya merasa terpanggil untuk ikut serta dalam dunia
kepenulisan, saya merasa berpotensi untuk ikut berjuang didalamnya, untuk
itulah dengan ‘bismillah’ saya akan ikut
bergabung dalam barisan FLP, bergabung dengan para duat kepenulisan sebagai wujud
jihad kepenulisan demi membela islam dan generasi islam yang berangsur
terpuruk karena penjajahan ideologi sekuleris liberalis.
Harapan saya kepada FLP teruslah
berjuang wahai pemilik pena-pena emas, tetaplah berjuang wahai duat fi sabilillah, teruslah berprestasi
dan berlomba dalam kebaikan, kita tegakkan pilar keislaman yang telah goncang,
kita kokohkan tali ukhuwah yang terberai
oleh kotak-kotak pemikiran barat dan kekufuran, semoga FLP bisa berkembang
menjadi sebuah komunitas internasional dan membawa panji-panji islam jaya di
dunia kepenulisan, Allahu Akbar..!!! wa’ala kulli hal, Wallohu a’lamu bi
shawab.
Gamping, 30 Oktober 2014
E. Sulthoni
mustthoni@gmail.com
@mustthoni