Ini adalah kisah yang tersisih dari jelajah sejarah, seorang penyair terkenal yang hilang jejaknya di zaman penjajahan belanda, pria yang terlahir di minagkabau ini namanya adalah Ghusin Alamsyah bin Yazid bin Salim bin Datuk Haji al Minangkabawi bin Rozaq al Turky
Ghusin adalah sosok penyair fenomenal di zamannya, namanya di puji dan dielukan banyak orang karena kepandaian dan keahliannya dalam mengolah kata dalam syair atau pantun, khususnya gadis-gadis yang dibuatnya terkagum-kagum, salah satu syair yang paling terkenal adalah “ Ranting Kecil Nun Sejauh Utara dan Selatan” syair yang ditulis di daun lontar dengan bahasa melayu sebanyak 99 lembar itu adalah satu-satunya warisan sepeninggalnya yang berisi pantun nasehat, pantun cinta, syair kritik sosial dan catatan biografinya, ia meninggal setelah peluru tentara Belanda menembus tubuhnya di tahun 1864 M tepat di usianya yang ke 40 tahun di Bukit tinggi Sumatera barat.
99 lembar lontar itu adalah salah satu dari sekian banyak tulisan karya Ghusin, namun belanda telah melenyapkan sebagian besar karyanya karena di curigai sebagai bahasa kode pemberontak bonjol paderi, setelah sepeninggalnya 99 lontar itu ditemukan oleh seorang tentara Belanda bernama William Koenradd lima tahun setelah Ghusin meninggal, William Koenradd yang pada waktu itu sedang berburu, menemukan lembaran-lembaran lontar dalam sebuah gubuk usang di tengah hutan, karena William sangat menyukai benda-benda unik ia pun menyimpannya, sampai ia memiliki istri bernama Puti Padusi seorang wanita pribumi asal Riau, yang kemudian lembaran lontar tersebut di hadiahkan kepadanya.
Dari Puti Padusi inilah kemudian lembar lontar tersebut di revisi kembali karena tulisan nya sudah hampir tidak bisa terbaca lagi, berkat keahlian Puti merevisi perkata demi kata, lontar tersebut pun akhirnya bisa kembali terbaca dan diberi nama Lontar Sang Utara, keinginan Puti Padusi untuk menelusuri sejarah Ghusin mendapat simpati suaminya, William Koenradd, demi cintannya kepada Puti ia rela menelusuri jejak sejarah Ghusin sampai di asal kelahiran Ghusin di minang kabau selama tiga tahun, wal hasil berkat William dan Puti ini pulalah diketahui sejarah dan jejak kisah Sang Utara, selain juga didapati keterangan biografi di lontar itu sendiri.
Konon Ghusin adalah anak dari seorang saudagar kaya bernama Yazid, garis keturunannya adalah dari niagawan sekaligus seorang pelaut dari tanah melayu bernama Salim anak Datuk Haji Minangkabau, sedangkan moyangnya berasal dari pedagang Turki yang menetap di pulau andalas. Walaupun dia terusir dari keluarganya karena menikahi seorang gadis desa bernama Syarifah yang tidak direstui orang tuanya, namun Ghusin mampu mengatasi keadaan tersebut, dari nol dia memulai usaha berdagang kayu arang, darah pedagang dari moyangnya memang sangat terlihat, terbukti hanya dalam waktu tiga tahun ia mampu membuatkan rumah untuk istrinya, dan menjadi salah satu orang terkaya di kampungnya, perdagangannya pun berkembang dengan pesat.
Disela kesibukannya ia menulis syair-syair nasehat dan syair cinta untuk sang istri yang sangat ia kasihi, ia juga sempat memiliki beberapa murid yang diajarinya menulis bahasa melayu menggunakan tulisan arab pegon, dia adalah orang terpelajar di kampungnya, berwibawa, memiliki jiwa sosial tinggi dan sangat dermawan, semenjak ia berhasil dengan usaha dagangnya, ia sering membagikan sebagian pendapatannya untuk masyarakat kampung yang memang pada waktu itu dibawah garis kemiskinan karena penjajahan, syair-syairnya yang mengkritisi feodalisme adalah salah satu contoh kepedulian Ghusin terhadap keadaan lingkungannya, namun ia sering dicekal karena di tuduh menentang pemerintahan Belanda.
Kebahagiannya bersama istri tak bertahan lama, ketika istrinya yang sedang hamil empat bulan harus meninggal karena sakit malaria, semenjak kematian istrinya tersebut Ghusin menjadi berubah 180 derajat, sikapnya pun mulai aneh, perdagangannya bangkrut, rumah yang selama ini menjadi kebanggan pun dijual untuk bertahan hidup, ia tak lagi berdagang dan benar-benar miskin dan tak memiliki semangat hidup, banyak yang mengira hal itu terjadi karena merasa kehilangan istri yang sangat ia cintai, ada pula yang menganggap dia gila karena bangkrut dan bermacam opini khalayak pada waktu itu.
Keanehan Ghusin semakin terlihat ketika gaya hidupnya berubah menjadi seorang pengembara dari satu daerah ke daerah lain, ia tidak memiliki rumah dan sering dijumpai tidur di hutan dan perkebunan, namun keanehan tersebut tidak mengurangi eksistensinya sebagai penyair, dia memiliki keahlian sastra yang luar biasa, pernah suatu hari dia menuliskan surat untuk teman karibnya yang bernama Sanusi, ia mengeluh dan meminta tolong kepada Ghusin menuliskan surat untuk gadis pujaanya, gadis yang disukai temannya itu adalah seorang putri saudagar kaya yang terkenal kecantikannya, banyak pemuda dari kalangan sesama saudagar bahkan bangsawan yang sudah melamar gadis tersebut namun tidak ada yang bisa mengambil hatinya, Ghusin menulis surat pesanan temannya itu, temannya menyuruh pembantunya untuk menyampaikan surat tersebut kepada gadis pujaanya, setelah gadis itu membaca surat yang berisi syair pujian kepadanya dan menyatakan ketertarikannya, putri saudagar itupun terkagum-kagum dan jatuh hati kepada teman Ghusin tersebut.
Lembayung di hamparan laut, gayung pun telah bersambut, demikian surat itu telah menghantarkan temannya menuju pelaminan pernikahan dengan gadis anak saudagar kaya itu.
Suatu hari Ghusin melantunkan syair dengan lagu yang sangat indah, ketika ia melantunkan syair tersebut, lewatlah lima wanita yang diantaranya adalah istri seorang pelaut bernama Mandah, karena terhanyut oleh lantunan syair Ghusin, mandah menjadi selalu ingin mendatangi tempat dimana Ghusin melantunkan syair, dengan tanpa sepengetahuan Ghusin, ia mendengarkan secara sembunyi-sembunyi, sampai suatu saat suami Mandah tidak menemuinya di rumah, ia mencari nya kemana-mana namun tidak menemukannya, sampai ketika itu suami Mandah mendapat laporan dari teman-temannya, bahwa ada yang menlihat istrinya sedang berada di ujung kampong bersama Ghusin, sedangkan Ghusin sama sekali tidak menyadari jika Mandah secara sembunyi-sembunyi mendengarkan lantunan syairnya, dengan penuh amarah suami mandah mendatanginya dan menghajar Ghusin, seketika itu pula suami Mandah hendak membunuh Ghusin, ketika suami mandah menghunus badiknya untuk menikam Ghusin, tidak disangka Mandah merebut badik itu lalu menancapkan keperut suaminya sendiri untuk membela Ghusin, suaminya tersungkur bersimbah darah, Ghusin yang melihat kejadian itu tepat didepan matanya bermaksud menolong suami mandah yang telah sekarat ke tabib, namun sayang nyawa suami mandah tidak dapat tertolong lagi, Mandah pun menghilang, dan diketahui beberapa hari kemudian Mandah bunuh diri dengan menjerat lehernya, tertuduh pembunuh suami mandah adalah Ghusin, ia pun di tangkap oleh pihak kepolisian belanda dan di jebloskan ke penjara untuk di adili.
Keluarga Suami Mandah tidak terima dengan kejadian itu, di suatu malam mereka beramai-ramai datang ke penjara tempat di tahannya Ghusin, lalu menyuap sipir penjara untuk menghajar Ghusin beramai-ramai, sebelum hal itu terjadi, Ghusin mengetahui dari teman-teman sesama tahanan bahwa Ghusin hendak di celakai bahkan bisa jadi terbunuh malam ini, Ghusin terpaksa lari dari penjara tersebut untuk menyelamatkan dirinya, kericuhan pun dibuat dan terjadilah huru hara di penjara, banyak tahanan yang menggunakan kesempatan itu untuk ikut melarikan diri, penjara kepolisian belanda itu pun dibakar, 20 tahanan ikut terlibat, 7 sipir tewas dan 2 sipir lainya terluka dalam kericuhan malam itu.
Ghusin pun menjadi buronan kepolisian belanda, gambar wajah Ghusin di sebar kepelosok kampong sebagai penjahat buronan yang berbahaya, di sudut-sudut keramaian khalayak berbincang membicarakan Ghusin, isu pun mulai menyebar sehingga mempersempit gerak Ghusin di pelarian, bagi Ghusin tidak ada lagi tempat aman kecuali di hutan, ia pun bergegas menuju hutan rimba yang hampir tidak pernah di sambangi oleh manusia karena terkenal angker dan menakutkan, bermacam mitos tentang hutan itu mulai dari isu siluman harimau, hantu tanpa kepala dan lain sebagainya, tidak menyiutkan nyali Ghusin untuk masuk kedalam hutan larangan tersebut.
Selama di persembunyian, Ghusin tetap berkarya, ia menulis di daun-daun lontar, membuat syair-syair pengaduan dirinya atas penderitaan yang ia alami selama ini.
ia mengirim surat kepada temannya Sanusi untuk meminta bantuan, suatu malam Ghusin menyelinap masuk ke kampung untuk mengantarkan suratnya kepada Sanusi, iapun berhasil meletakkan surat itu di depan pintu teman karibnya itu.
setelah itulah Sanusi sering menyambangi Ghusin di hutan secara sembunyi-sembunyi.
****
Setahun telah berlalu, pelarian Ghusin di belantara larangan masih tertutup rapat, tidak ada satu orang pun yang tau kecuali sahabatnya yang tak lain adalah Sanusi. Suatu hari ia mendapat kabar dari Sanusi bahwa peperangan gerilya telah di mulai yaitu di bawah pimpinan yang mulia Tuanku Imam Bonjol, dari pembicaraan itu Ghusin dan sanusi berniat untuk ikut mendukung perlawanan rakyat di bawah pimpinan Imam bonjol, mereka berniat bergabung dengan golongan paderi untuk melawan tirani penjajah.
Mereka pun mulai berdiskusi, membuat rencana perekrutan masa melalui surat-surat seruan kepada para pemuka kampung agar mendukung dan bergabung melawan Belanda, untuk menyamarkan identitas, Ghusin menyamar sebagai seorang utusan Tuanku Imam Bonjol yang bernama Dato Omar yang sekarang berada di hutan untuk menghimpun kekuatan. Perekrutan masa dilakukan secara berhati-hati, mereka yang hendak bergabung harus di seleksi dengan ketat untuk menghindari pengkhianat terselubung dari mata-mata Belanda.
Masa berhasil di himpun di hutan larangan tersebut, untuk bergabung dengan pasukan Bonjol paderi di Pariyaman, 200 orang yang terhimpun dibawah kepemimpinan Ghusin dan Sanusi bergerak menuju ke markas Imam Bonjol untuk membantu perlawanan penjajahan Belanda, yang waktu itu menduduki tanah minang. namun ketika mereka belum sempat bergabung dengan pasukan Bonjol, belanda mencium rencana mereka, dari mata-mata belanda yang ternyata adalah adik ipar sanusi sendiri.
Pasukan Ghusin dihadang oleh pasukan belanda di perjalanan, peperangan pun terjadi yang mengakibatkan pasukan Ghusin kocar-kacir, pasukannya dikepung, di hujani peluru dari atas bukit, korban berjatuhan, 10 orang tersisa dan berhasil melarikan diri termasuk Ghusin dan Sanusi.
Sampailah pelarian Ghusin dan pasukannya di bukit tinggi, namun malang tak bisa di elak, keberadaan Ghusin di bukit tinggi juga sudah diketahui oleh pihak Belanda, penyergapan dilakukan, pasukan Ghusin bertahan di rumah-rumah warga setempat, bertahan selama 25 hari, setelah kemudian, sebagian dari warga juga ikut membela pasukan Ghusin, belanda pun menghujani dengan meriam sehingga rata dengan tanah, pasukan ghusin ditangkap, tinggal Ghusin dan Sanusi yang tersisa bersembunyi di sebuah lembah dimana menjadi tempat terakhir Ghusin sampai akhir hayatnya, Ghusin dan Sanusi tewas diterjang peluru panas pasukan Belanda setelah pengepungan selama 2 hari di lembah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu