Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Sabtu, 15 November 2014

Aku, FLP & Dakwah Kepenulisan


               Tulisan merupakan bagian dari sejarah peradaban manusia, di mulai dari ditemukannya tilasan jejak yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, yaitu di daerah mesopotamia dan mesoamerica tepatnya berasal dari zapotec daerah mexico, sedangkan mesopotamia lebih dekat dengan sumer kuno pada tahun 3200 SM, kemudian mengalami perkembangan sesuai zaman, didalam ilmu sejarah menyebutkan perkembangan tulisan di sinyalir berada di asia, walaupun terjadi perdebatan antara di mesir kuno 3200 SM atau di china 1300 SM, tulisan yang ditemukan pada zaman itu adalah naskah kuno yang terdiri dari 12 naskah dengan model tulisan berupa simbol mnemonic dengan sistem ideografik. (Powell, Barry B. 2009. Writing: Theory and History of the Technology of Civilization, Oxford: Blackwell).

                Sejarah tersebut membuktikan bahwa setiap peradaban manusia dari zaman ke zaman tidak bisa lepas dari apa yang disebut dengan tulisan, yang sifat dan tujuannya adalah sebagai pesan, pengingat, surat menyurat, dan sebagai ekspresi manusia sesuai dengan peradabannya ( Rusyana 1994)

                Tulisan adalah sebagai ekspresi manusia, terlepas dari apa pesan dan maksud tujuan dari tulisan itu sendiri, dulu ketika saya masih SMA, karakter kepenulisan sebenarnya sudah terlihat, namun seperti dialami pemula pada umumnya, yang memiliki ekspresi dan semangat akan tetapi ada keminderan dalam diri mereka sehingga tidak memiliki keberanian untuk mempublikasikannya, itulah yang terjadi juga pada diri saya waktu itu. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, yang pertama adalah low profile, yang kedua adalah privacy, dan yang ketiga adalah easy going atau sembari iseng saja.
                Saat ini baru tersadar, ketika saya membongkar manuskrip saya di lemari yang sudah belasan tahun  tersimpan, saya buka kembali lembaran-lembaran manuskrip tersebut, Masya Allah ternyata tidak menyangka bahwa tulisan-tulisan itu saya yang menulis, saya terenyuh dan terkesan pada tulisan sendiri , akhirnya saya mulai kembali mengasah potensi, ada perbedaan antara tulisan muda dan tulisan tua ( baca waktu dulu dan waktu sekarang), yaitu masalah karakter bahasa, isi tulisan dan ending discription nya, dulu saya suka dengan karya fiksi, dan sekarang saya lebih condong ke non fiksi, dulu tidak punya akhiran yang pas, sekarang sudah mulai sesuai plot dan judul.

                Sampailah pada ketertarikan saya pada sebuah komunitas kepenulisan yang kita kenal sekarang sebagai forum kepenulisan terbesar dan paling produktif mencetak penulis-penulis kreatif, siapa lagi kalau bukan FLP, saya sebenarnya mengenal FLP sudah sejak awal berdirinya kira-kira tahun 2000 an kalau tidak salah, bahkan saya sempat menggandrungi novelnya Asma Nadia dan pernah hunting buku beliau di Gramedia disetiap terbitnya dan sempat ingin bergabung dengan FLP pada tahun 2004, namun karena kesibukan dan aktifitas jihad nafkah, akhirnya keinginan untuk bergabung dengan FLP jadi timbul lenyap, apalagi ketika selalu kehilangan kesempatan OPREC FLP yang terlewatkan karena kurangnya informasi, jadi lengkap sudah penderitaan saya selama ini, saya jadi katak dalam tempurung di dunia kepenulisan sedangkan saya sangat berkeinginan untuk mengembangkan potensi saya tersebut.

                Banyak hal yang bisa saya tangkap dari buku-buku karangan penulis FLP, ada yang centil seperti bahasa ABG, ada yang puitis seperti gaya pujangga dan ada yang apa adanya, namun yang membuat saya terkesan adalah pesan moral dan muatan keislaman yang sangat kental di dalam gaya kepenulisan penulis FLP, inti dari semua itu adalah dakwah, iya dakwah melalui tulisan dirasa sangat efektif, karena hingar bingar tulisan fiksi dan non fiksi sejak dulu di dominasi oleh penulis-penulis sekuler yang jauh dari nilai keislaman, tentu hal ini di jadikan santapan generasi muda yang memang masih labil dan mudah terpengaruh, walhal akhirnya banyak remaja di indonesia ini mengidap penyakit yang susah disembuhkan, yaitu al isyq’ (mabuk cinta), kita banyak menemukan muatan pornograph di novel-novel sekuler, bermuatan apatis dan cengeng terhadap kenyataan kehidupan, sehingga mereka jadi kerdil, mudah putus asa dan jauh dari nilai agama serta jauh dari moralitas bangsa timur.

                Kerisauan semakin muncul ketika kebebasan pers dan dunia jurnalis menebar teror kepada islam, dengan tekanan-tekanan politis dan intrik, hal ini menambah kecemasan yang luar biasa pada diri saya, saya merasa terpanggil untuk ikut serta dalam dunia kepenulisan, saya merasa berpotensi untuk ikut berjuang didalamnya, untuk itulah dengan ‘bismillah’ saya akan ikut bergabung dalam barisan FLP, bergabung dengan para duat kepenulisan sebagai wujud jihad kepenulisan demi membela islam dan generasi islam yang berangsur terpuruk karena penjajahan ideologi sekuleris liberalis.

                Harapan saya kepada FLP teruslah berjuang wahai pemilik pena-pena emas, tetaplah berjuang wahai duat fi sabilillah, teruslah berprestasi dan berlomba dalam kebaikan, kita tegakkan pilar keislaman yang telah goncang, kita kokohkan tali ukhuwah yang  terberai oleh kotak-kotak pemikiran barat dan kekufuran, semoga FLP bisa berkembang menjadi sebuah komunitas internasional dan membawa panji-panji islam jaya di dunia kepenulisan, Allahu Akbar..!!! wa’ala kulli hal, Wallohu a’lamu bi shawab.

Gamping, 30 Oktober 2014

E. Sulthoni
mustthoni@gmail.com
@mustthoni

               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu