Siapa yang tidak ingin bebas ? semua mahluk yang diciptakan bernyawa pasti menginginkan kebebasan, termasuk manusia dan hewan, sapi jika dikekang pasti akan berontak jika hak-haknya tidak terpenuhi, bahkan semut sekalipun ketika ia dikurung, pasti akan berusaha keluar untuk mendapatkan kebebasan untuk mendapatkan hak-haknya, terlebih manusia sebagai mahluk berakal, ia akan berontak ketika kebebasannya dicerabut.
kebebasan adalah merupakan keinginan asasi setiap mahluk hidup, untuk hidup tenang, damai dan diakui keberadaanya, dipenuhi hak-haknya, terjamin kehidupannya secara aman tanpa intervensi dari pihak lain. namun lain halnya jika kebebasan itu menjadi tanpa batas, karena itu merupakan sebuah ancaman yang justru menjadi keterbalikan dari tujuan kebebasan itu sendiri. tidak bisa kita bayangkan jika kebebasan menjadi tanpa batas, tidak ada ikatan, tidak ada aturan, tidak ada patokan pasti dalam berpedoman, tentu itu akan menjadi awal kehancuran. artinya, tidak semua kebebasan bisa di aplikasikan dalam setiap segi kehidupan, karena kebebasan tanpa batas adalah ibarat mobil tanpa rem yang melaju dengan kecepatan tinggi sehingga bisa kita bayangkan akibatnya.
kebebasan tanpa batas inilah yang saat ini terjadi, kebebasan dipahami secara general, sehingga agama pun dikritisi, firman dilecehkan sebagai bualan, aturan dan hukum tidak ada yang baku diberlakukan, pengkhianatan terhadap moralitas dijadikan kebiasaan yang dilindungi keabsahannya, dibela mati-matian dan bahkan dianggap menjadi sebuah hak yang setiap orang boleh melakukannya dengan alasan Hak Asasi Manusia.
Kebebasan berpendapat sering dijadikan alasan sebagai proteksi sebuah pemahaman yang jelas-jelas sesat, kebebasan dipahami sebagai sebuah pemberontakan terhadap nilai peradaban manusia dan agama yang dianggap kuno dan tidak relevan dengan perkembangan zaman, bahkan ada diantara mereka yang mengklaim dirinya sebagaiMujadid dan Mujtahid. hal ini ditandai dengan bemunculannya jamur-jamur kebebasan berkedok HAM, persamaan, dan Toleransi kemajemukan yang sudah di kategorikan sebagai jamur beracun yang mematikan, jamur-jamur mematikan itu antara lain adalah : Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme, dengan berbagai macam karakter dan tipu dayanya.
Bemacam propaganda pun mereka gencarkan keseluruh dunia, melalui berbagai media, termasuk melalui media sosial, seperti blog, situs web, facebook, buku-buku dan lain sebagainnya, dengan mudah bisa kita jumpai saat ini, seperti layaknya hujan deras yang mengaliri setiap jalur air sampai ke pelosok, mereka bersinergi untuk membangun sebuah peradaban baru yang mereka klaim sebagai pembaharuan yang bermuara pada satu tujuan yang sama, yakni kebebasan melakukan apapun tanpa ada sekat penghalang baik dari agama maupun moral.
Bukan hanya itu saja, mereka mulai menyerang tokoh agama dengan isu sara, mereka mengklaim ekstrim bagi siapapun yang membantah pendapat mereka, termasuk para ulama, komunitas dan organisasi islam tidak luput dari serangan mereka, sebagian ada yang menyusup kedalam, ada yang terang-terangan dan ada yang menggunakan kekuasaan politik untuk mendapatkan kendali, menjadi "the hero" dalam hal-hal sensitif seperti isu persamaan gender, isu sara, isu HAM, isu sosial, dan lain sebagainya. mereka menarik simpati publik dengan menyembul kepermukaan sebagai pelopor pembela rakyat kecil dan memperjuangkan hak-hak mereka. benarlah firman Allah Subhana wata'ala :
“sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. 6:112)
padahal mereka tak lain adalah musang berbulu domba yang mengambil keuntungan untuk meraih tujuan-tujuan mereka sendiri yang sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka tunjukkan.
Islam dengan syariatnya yang mulia sudah menjelaskan secara rinci tentang bagaimana kebebasan itu, tentang kemerdekaan, tentang Hak asasi, tentang keadilan, tentang kehidupan sosial, yang lebih dulu dari pahlawan kesiangan seperti mereka. mereka adalah orang-orang bodoh yang mengaku cerdas, mereka membual seperti ocehan burung, sedangkan apa yang mereka ucapkan dan perbuat adalah penyebab kerusakan di muka bumi ini.
“Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. “Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar” (QS. 2:11-12)
Bagaimana mungkin sebuah tujuan baik dimulai dengan kebebasan tanpa batas? bagaimana mungkin keadilan bisa ditegakkan ketika orang bebas melakukan apapun? mereka memiliki seribu alasan, namun sekalipun tidak bisa dibuktikan dalam sejarah dan kenyataan, mereka hanya mengikuti hawa nafsu, mengikuti keinginan yang berlandaskan kebodohan dan kejumudan, dan justru yang terbukti adalah kebinasaan setelahnya. lihatlah sejarah dan buktikan apakah yang mereka katakan adalah benar? tentu sekalipun tidak.
kebebasan sebenarnya bisa kita pahami secara fitrah, jika kita mau jujur dengan keadaan manusiawi yang sesungguhnya, kebebasan seekor sapi adalah dalam tali kekang dan diberi makan, diperlakukan sebagaimana mestinya, bukan kemudian sapi harus dilepas dan diberi pakaian serta perhiasan, seorang manusia bebas bukanlah yang diperbudak oleh orang lain sebagaimana sapi. kebebasan menduduki posisi sesuai dengan proporsinya, karenanyalah mobil membutuhkan rem untuk mengurangi kecepatan agar tidak menabrak, anak kecil bebas bermain namun dibatasi agar tidak membahayakan dirinya, seorang wanita harus dilindungi karena lemah, bukan kemudian merasa kuat dan menafikan kelemahannya, laki-laki wajib mengayomi dan melindungi wanita namun bukan untuk memperlakukan wanita sebagai mainan, rakyat berhak atas perlindungan dan kesejahteraan dari pemerintah, namun bukan berarti seenaknya sendiri melanggar aturan dan hukum, pemerintah memiliki hak membuat undang-undang untuk rakyatnya, namun bukan berarti dia bebas mengambil keuntungan pribadi darinya. ini adalah contoh sederhana, betapa kebebasan seseorang membutuhkan batasan, agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang membahayakan dirinya maupun orang lain.
Kebebasan adalah ikatan, tapi bukan pengekangan, kebebasan adalah memberikan pemikiran namun bukan untuk merusak pemikiran, kebebasan adalah pendapat namun bukan memaksakan pendapat, kebebasan adalah menetapi kebenaran bukan yang mengingkari kebenaran, karena kebebasan adalah kelaziman bukan kedzaliman. untuk itu berhati-hatilah atas pemahaman yang tidak lazim dan janganlah berbuat dzalim.
(mustthoni)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu