Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Minggu, 28 Desember 2014

ANTARA ISLAM DAN KEISLAMAN (Refleksi dari Anggapan yang Salah dalam Memahami Islam)

Berawal dari membaca sebuah Artikel tentang Islam dan Ke-Islaman, sebuah tulisan salah satu teman saya di FLP, yang mengulas dari sebuah pernyataan seseorang, yaitu beda antara Islam dan Ke-Islaman, teman saya membantah pernyataan tersebut dengan menjelaskan secara singkat bahwa pernyataan tersebut tidak bisa dibenarkan. Saya tergelitik untuk menulis dengan tema yang sama. Ini merupakan sebuah tanggapan dan penilaian atau lebih bisa dikatakan untuk menguatkan bantahan teman saya tersebut, walaupun disini ada juga kritisi terhadap tulisan teman saya itu dalam beberapa hal, namun tujuan dari tulisan ini tidak semata-mata demikian. ada kaidah didalam dunia kepenulisan, bahwa menilai, mengkritisi, menanggapi sebuah tulisan, hendaknya dilakukan dengan membuat tulisan juga. ada disiplin ilmu dalam setiap tulisan non fiksi, yaitu tulisan harus bersifat Faktual dan Ilmiyah, sehingga bisa dipertanggung jawabkan. ini hanya merupakan asumsi saya pribadi sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan.

Tema yang saya angkat yaitu tentang Islam dan ke-Islaman, dari sudut pandang yang insya Allah akan saya ulas se-ilmiah mungkin, karena dalam kaitannya, Islam dan Ke-Islaman merupakan bagian dari al-Ushul, ada beberapa hal yang perlu ditandasakan sebelum membahas lebih jauh bagian dari al-Ushul tersebut, yaitu seperti yang sudah lazim kita ketahui, bahwa pembahasan harus memiliki rujukan yang jelas, memiliki bahasa yang lugas tanpa ditutup-tutupi, karena sangat dimungkinkan akan membahas tentang hukum dan dalil-dalil dhahir dari Alqur'an dan Hadits yang tidak memerlukan permisalan-permisalan yang membingungkan, karena memang sudah qath'i dan bisa dipahami secara dhahir-nya dalil. adapun tentang keterangan  syarah, maka dimungkinkan bisa menggunakan sebuah permisalan sebagai penjelas agar mudah dipahami.

Pengertian Islam dari Segi Bahasa

Islam adalah berasal dari kata "salaaman" atau "salmun" yang artinya damai, atau bisa ditashrif demikian;

 الإسلام مصدر من أسلم يسلم إسلاما

jadi bisa kita ketahui bahwa asal kata Islam adalah dari kata "salmun"(damai), hal ini berdasar pada sebuah dalil;

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8 : 61)

lalu kemudian karena mengalami perubahan illat manakala sampai kepada kata "Islaama" maka bisa diartikan sebagai berserah/menyerah. jadi kesimpulannya, Islam artinya adalah berserah diri kepada Allah untuk keselamatan di dunia dan di akhirat.

Allah berfirman dalam al-Qur’an: (QS. 4 : 125)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً 

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”

Dari dalil diatas sudah cukup menjelaskan kita makna dari Islam itu sendiri, walaupun sangat banyak dalil yang menjelaskan tentang makna Islam, namun dirasa dalil  di atas sudah mewakili semua dalil yang ada.

Pengertian Islam dari Segi Istilah

Secara Istilah, Islam adalah berhubungan dengan Dien al-Islam yang telah di wahyukan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul untuk manusia, mencakup keberserahan diri manusia kepada Allah dengan penghambaan yang sungguh-sungguh, yang disertai dengan ketaatan dan kepatuhan terhadap semua apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, menjauhi larangan-Nya, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.


قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

"Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS: 6: 162) 


 فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَ يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Barangsiapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal shalih dan ia jangan mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.”(QS.Al-Kahfi/18: 110)

Makna Ke-Islaman

Setelah kita mengetahui makna Islam dari segi bahasa dan istilah, tentu sudah bisa dipahami juga apa yang dimaksud dengan ke-Islaman itu, bagi orang yang berakal sehat dan memang memiliki pemahaman yang manusiawi pasti dia akan tahu makna ke-Islaman setelah mengetahui arti Islam itu sendiri. namun ada baiknya jika diulas agar lebih bisa dipahami.

Ke-Islaman merupakan aktualisasi dari Islam yang melekat pada seorang Muslim, dengan kata lain ke-Islaman merupakan sifat dan ciri-ciri yang nampak pada diri seorang muslim sebagai wujud ke-imanan-nya terhadap Islam. di dalam Islam dijelaskan bahwa menampakkan sifat ke-Islaman merupakan hal yang wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan, hal ini sangat wajar karena secara umum seseorang yang meyakini suatu agama maka ia akan menampakkan-nya, seorang Nashrani akan menampak ke-Nasranian-nya, begitu juga dengan orang Hindu, Budha, Kong hu chu, dan lain sebagainya, maka secara otomatis akan menampakkan keyakinan tersebut dalam dirinya, bahkan seorang komunis pun juga akan menampakkan ke-komunisan-nya. jadi ini merupakan hal yang sangat manusiawi.

Nah dari sinilah kemudian akan sangat lucu, ketika seseorang mengatakan agar membedakan Islam dengan Sifat ke-Islaman-nya, seakan sama halnya dengan mengatakan bedakan laki-laki dengan sifat kelelakian-nya. bukankah seorang laki-laki akan menampakkan sifat kelelakian-nya sebagaimana wanita akan nampak sifat ke-feminisan-nya? dan bukankah dengan hilangnya sifat ke-lelakian akan membuat laki-laki jadi seperti bukan laki-laki atau disebut banci? begitu juga dengan wanita yang kehilangan sifat ke-feminisan-nya pun akan berubah seperti bukan wanita? lalu apa arti dan makna sebuah anggapan bahwa Islam berbeda dengan sifat ke-Islaman? aneh bukan??

Sebenarnya hal ini bisa terjawab dengan logika saja, sangat sederhana dan sangat simpel, namun ada baiknya kalau kita perkuat dengan dalil sehingga lebih kuat. Islam menganggap orang yang tidak mau menampakkan ke-Islaman-nya adalah sebagai seorang yang nifak (Munafik).



إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيْقًا، وَ إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنالْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّاب


“Sesungguhya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga, dan sungguh seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu menunjukkan ke neraka, dan sungguh seseorang senantiasa berdusta sehingga dicatat sebagai pendusta.” 
(HR. Al-Bukhari)

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا


“Barangsiapa yang menipu kami, ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)

Kenapa demikian?? karena seorang Muslim yang tidak menampakkan ke-Islaman-nya maka sama halnya dengan berbohong, hal ini dipahami secara umum dalam setiap sikap dan tingkah laku, penampilan, akhlak, dan lain sebagainya. seorang muslim yang tidak bersifat dan bersikap ke-Islaman maka sama halnya dia takut dan malu dengan ke-Islaman-nya, sehingga dia bersembunyi dan akan menampakkan suatu sifat lain yang bukan merupakan ciri-ciri ke-Islaman dan ini adalah ciri-ciri orang munafik.

Menampakkan ke-Islaman yaitu menunjukkan identitas ke-Islaman yang lazim terlihat, seperti laki-laki berjenggot, perempuan berjilbab, beradab, bertata krama, dan seterusnya, ini adalah perintah Allah karena ada  larangan menyerupai orang kafir dan adanya perintah menyelisihi orang kafir. Lalu bagaimana memahami sebuah ungkapan untuk membedakan Islam dengan sifat ke-Islaman yang merupakan satu kesatuan?? justru yang terlihat dari pemahaman keliru ini adalah kebodohan dan kebingungan, ketakutan dan kemunafikan, menyalahi fitrah yang manusiawi, yang akan menjauhkan kita dari pemahaman Islam yang sebenarnya.

Islam adalah Rahmatan lil Alamin

Nabi Muhammad adalah yang diutus oleh Allah sebagai Pembawa Risalah untuk menyampaikan wahyu kepada seluruh ummat manusia, dan menjadi Rahmat bagi Seluruh Alam. Artinya Islam adalah sebuah keyakinan yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, mengatur, mengarahkan semua segi kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Demikianlah Islam dipahami sebagai rahmat seluruh alam, berbeda dengan ungkapan sebagian orang yang beranggapan bahwa makna dari Rahmatan lil alamin adalah wujud dari Pluralisme dan Liberalisme didalam beragama, sehingga sering kita dengar ungkapan-ungkapan nyleneh dari propaganda mereka yang menyatakan bahwa Rahmatan lil Alamin adalah sebuah wujud keberagaman perbedaan yang sama. 

Perbedaan dipahami sebagai Rahmat dan dianggap menjadi bagian dari kebenaran itu sendiri, dengan lancang mereka mengatakan Islam adalah Kepala, Kristen adalah Tangan, Hindu dan Budha adalah badannya yang semua itu berbeda tapi tetap dalam satu kesatuan fisik yang menyembah Tuhan yang sama. ini adalah ungkapan yang bathil yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia, bagaimana mungkin bapak kita sama sehingga bisa berbagi bapak? bagaimana mungkin istri kita semua sama sehingga bisa saling bertukar istri? bagaimana mungkin negara kita sama dengan negara lain sehingga boleh berganti-ganti negara? inilah pemikiran rusak mereka, dimana mereka bisa sholat di gereja, di vihara, di kuil, di Klenteng dengan alasan Tuhan-nya sama cuma beda nama, na'udzubillahi mindzalik.

Ada yang beranggapan Bahwa Kaum Kafir lebih Islami

Ini adalah ungkapan sepele yang bisa berakibat membatalkan ke-Islaman jika diyakini sebagai ungkapan yang benar, karena sama halnya menganggap mereka lebih benar dan sedang mengamalkan Islam, sedangkan mereka sedang mengamalkan ajaran agama mereka, lalu bagaimana kita menganggap mereka lebih Islami dari Umat Islam, hanya karena mereka melakukan perilaku baik secara umum misal bersedekah, berbuat baik pada tetangga dan kerabat, gemar membantu, dan lain-lain. apalagi hal ini disertai dengan pembandingan dengan sifat buruk sebagian muslim, maka ini sama halnya dengan menganggap muslim lebih buruk dari orang kafir tersebut, padahal seburuk-buruk muslim bila ada iman seberat biji sawi yang bersih dari kesyirikan, pasti akan masuk ke dalam Syurga dengan pengampunan Allah, sedangkan sebaik-baik orang kafir yang tidak pernah putus berbuat baik seumur hidupnya dengan amalan bergunung-gunung sekalipun, tidak akan diterima sedikitpun oleh Allah dan masuk ke Neraka karena kekafiran-nya.



Al ‘Allamah Abu Ath Thoyyib Shidiq bin Hasan Al Bukhari rahimahullah dalam kitabnya Al ‘Ibrah (hal. 245), ia berkata,

وأما من يمدح النصارى ، ويقول إنهم أهل العدل ، أو يحبّون العدل ، ويكثر ثناءهم في المجالس ، ويهين ذكر السلطان للمسلمين ، 

وينسب إلى الكفار النّصيفة وعدم الظلم والجور ؛ فحكم المادح أنه فاسق عاص مرتكب لكبيرة ؛ يجب عليه التوبة منها والندم 

عليها ؛ إذا كان مدحه لذات الكفار من غير ملاحظة الكفر الذي فيهم . فإن مدحهم من حيث صفة الكفر فهو كافر

“Siapa saja yang memuji orang Nashrani, menyatakan mereka adalah orang yang adil, orang Nashrani itu mencintai keadilan, pujian seperti ini pun banyak disuarakan di majelis, maka yang memuji termasuk orang fasik dan pelaku dosa besar. Sedangkan sikapnya untuk pemimpin atau raja muslim jadi dihinakan. Adapun orang kafir diagung-agungkan dan tidak pernah disebut zalim. Orang yang melakukan seperti itu wajib bertaubat dan menyesal atas sikapnya. Sedangkan kalau yang dipuji adalah dari sisi akidah kafir yang mereka anut, maka memuji mereka termasuk kekafiran.”

Sudah jelaslah bagi kita, apapun yang benar dengan ilmu dan apapun yang salah dengan ilmu, betapa Allah telah menetapkan perbedaan dalam perbedaan dan Allah membedakan apapun yang seperti nya sama namun ternyata berbeda, dengan al-Ilmu.
Marilah kita nilai sebuah perbedaan dengan ilmu syar'i, sehingga kita bisa membedakannya dengan adil dan benar, dan jika kita tergelincir dari jalan yang benar, semoga kita termasuk menjadi orang-orang yang senantiasa bertaubat kepada-Nya.
Akhirnya, semoga Allah membimbing kita dengan ilmu-Nya dan memantapkan Keimanan kita, dan terhindar dari setiap ke-fasikan dan ke-kafiran. atas kekurangan dan kesalahan didalam menyampaikannya semoga Allah mengampuni, dan sungguh nasehat dan kritik atas kekurangan dan kesalahan yang mungkin terjadi, menjadi harapan saya untuk bisa lebih baik lagi. Wallahu'alamu bishawab.

______Must-Thoni el-Jawie________
Tulisan ini saya wujudkan sebagai pemenuhan janji untuk menulis artikel berkenaan dengan artikel al-Akh Taher FLP XVI, Semoga Allah memberkahinya.

Rujukan :

- Kitab Al 'IbrahAl ‘Allamah Abu Ath Thoyyib Shidiq bin Hasan Al Bukhari
- Alqur'an Al-Karim
-Kamus Arab Munawwir
-Hadits Bukhari & Muslim







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu