Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Jumat, 05 Desember 2014

6 HAL UNIK DITEMUKAN SETELAH GABUNG DI FLP JOGJA

Menulis merupakan sebuah Aktifitas Seni, walaupun sebenarnya bisa di artikan secara lebih luas dan lebih Spesifik, namun ringkasnya, menulis tetap di kategorikan sebagai seni, yang menonjolkan aspek cara mengabarkan, cara mempengaruhi, cara menyampaikan pikiran dan cara melukiskan sebuah ekspresi melalui himpunan kata-kata, entah itu ekspresi karena pengaruh psikis maupun ekspresi yang bersifat insidental dari melihat sebuah peristiwa.

Menulis dimaksudkan untuk meraih tujuan-tujuan tertentu, mulai dari tujuan Surat menyurat, Dokumentasi / Merekam Peristiwa, Memberi Informasi, dan bahkan sebagai Dakwah. Seorang Penulis dituntut untuk bisa menyajikan hal-hal  tersebut di atas, karena sebuah tulisan bisa dikatakan bagus dan berbobot apabila mampu memberikan kepuasan kepada pembaca, dengan asumsi bahwa penulis harus bisa membawa pembaca kepada jalur pemikirannya, membuat pengaruh-pengaruh / sugesti, memberikan ledakan-ledakan imajinasi dan inspirasi, memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan, sehingga pembaca merasa mendapatkan hal baru atau keunikan setelah membaca tulisan dari penulis tersebut.

Untuk menjadi seorang penulis yang bisa melakukan semua itu, tentu dibutuhkan kerja keras dan usaha yang maksimal, banyak belajar, banyak membaca, dan banyak menulis. satu hal yang tak kalah pentingnya adalah kalau kita ingin belajar menulis maka berkumpulah dengan penulis, seperti pepatah kata menyatakan, "berteman dengan penjual parfum akan terkena wanginya, bergaul dengan pandai besi akan terkena apinya". artinya, pergaulan dan interaksi dengan siapapun sedikit banyak akan berpengaruh pada diri kita, sehingga jika kita ingin belajar nulis ya harus bergaul dengan penulis. untuk itulah kemudian saya bergabung dengan Forum Lingkar Pena, sebuah Komunitas Bergengsi di dunia Kepenulisan.

Semenjak bergabung dengan FLP Jogja, walaupun saya tergolong masih Pemula di FLP Jogja, yaitu Angkatan XVI, saya sudah  'jatuh cinta pada pandangan pertama', saya bisa menangkap sebuah esensi yang luar biasa ketika mengikuti program PDKT baru-baru ini untuk yang pertama kalinya. Hal luar biasa yang mampu memberikan Support dan Motivasi tersendiri di dalam diri saya, terlebih ketika  Senior-senior FLP berbagi tentang Wawasan kepenulisan, Teori-teori efektifitas dalam menulis, tentang bagaimana Meng-anulir, Meng-koordinir dan Menangkap Inspirasi dari keberagaman ide ke dalam tulisan, ini adalah hal lain yang belum pernah saya dapatkan di forum-forum serupa.

Saya teringat dengan salah satu syairnya Sujiwo Tedjo, "anut runtut tansah reruntungan, munggah mudun gunung ambyur samudero" (secara berurutan dalam kebersamaan, mendaki dan menuruni gunung kemudian masuk ke dalam samudera), arti dari kata-kata tersebut adalah melukiskan sebuah kebersamaan yang bersinergi, bahu membahu dengan segala kesusah payahan demi satu tujuan, yang kemudian berakhir dengan mendapatkan tujuan itu, berupa pengalaman dan ilmu yang luas seperti samudera. 

Nah, inilah yang saya alami, inilah yang saya rasakan, betapa tidak lelah, sejauh ini saya berjuang sekuat tenaga untuk bisa mengasah potensi, menggali setiap ilmu yang saya dapatkan seorang diri, namun ternyata belum membuahkan hasil kecuali sangat sedikit, lebih sedikit dari tetesan keringat yang saya keluarkan, apa yang saya dapatkan tak lebih hanya sebuah pandangan satu ruang berwarna tunggal, seperti kehidupan katak dalam tempurung, akan tetapi ketika saya  bergabung dengan FLP, keluar biasaan telah saya dapatkan dalam kebersamaan, wawasan baru dan ilmu baru saya dapatkan, mencuatkan empati saya yang dulu melemah, membuka ruang dimensi warna-warni, membuka pemahaman yang selama ini tidak saya dapatkan ketika seorang diri. FLP membuat saya mendapatkan berbagai macam wawasan baru, melalui kebersamaan FLP memberi pemahaman, bahwa kebersamaan adalah tidak sekedar berkumpul dan berorganisasi namun lebih dari itu semua. semoga kita bisa berjuang bersama dengan tujuan yang sama dan meraih tujuan itu secara bersama-sama pula, aamiin.

Enam hal unik telah saya dapatkan dari sejak bergabung dengan FLP, enam hal luar biasa yang bisa jadi hanya didapat dari sesi-sesi mata kuliah, enam hal yang membuka mata lebar-lebar, begitu mengesankan, apakah enam hal tersebut ? mungkin teman-teman seangkatan pun memiliki penilaian yang sama, namun saat ini saya akan menukilkan enam point keunikan setelah bergabung dengan FLP versi Saya.

1. MENGEMBANGKAN WAWASAN KEPENULISAN

FLP mampu memberikan pencerahan berupa Wawasan Kepenulisan yang mungkin hanya bisa didapat dari Kuliah Sastra, Kepenulisan yang dirasa oleh Sebagian besar orang memiliki tingkat Kesulitan tinggi dan njlimet, menjadi sebuah aktifitas yang 'Easy Going' , aktifitas yang sangat praktis dan jauh dari anggapan  sebagian besar orang selama ini. Kepenulisan adalah aktifitas ekspresi yang dituangkan dalam kata-kata dimana setiap orang bisa melakukannya, bukan merupakan keahlian yang melulu milik para cendikiawan saja.

2. MEMBERIKAN DORONGAN DAN ASISTENSI

Di FLP tidak berlaku kata-kata basi yang meng-klaim bahwa menulis adalah bakat, walaupun secara obyektif bakat merupakan salah satu faktor pendukung dari aktifitas tersebut, akan tetapi tidak dibenarkan secara mutlak. FLP mendorong setiap anggotanya, dari mulai nol sampai ke titik harapan menjadi penulis handal. memberikan asistensi kepada anggotanya, agar tetap dalam alur kepenulisan yang jelas, berlandaskan ke-ilmuan, menjunjung tinggi Norma Estetika, Norma Sastra, Norma Moral dan Relegiusitas, serta mencetak generasi penulis yang memiliki landasan filosofi yang lahir dari sebuah Kerisauan, Perjuangan dan Pengorbanan.

3. MEREFLEKSIKAN UKHUWAH SEBAGAI SARANA MEMPERBAIKI DIRI DAN BERBAGI

Ibarat lidi yang terhimpun dalam satu ikatan kuat, maka akan menjadi sapu yang bisa membersihkan kotoran seluas halaman dan sepanjang jalan, inilah kebersamaan, kebersamaan adalah senjata dalam menghadapi halangan dan rintangan dalam sebuah perjuangan, kebersamaan merupakan simbol Kebangkitan dan Persatuan. di dalam Islam kebersamaan dikenal dengan istilah  Jama'i, atau Jamaah, berasal dari kata  Jama'a - Yujami'u - Ijma', yang artinya adalah Kumpulan, Telah Terkumpul, Kesepakatan dari sebuah Kumpulan. kemudian Jamaah itu sendiri selalu dikaitkan dengan sebuah istilah Ukhuwah yang artinya persaudaraan. jadi kebersamaan di dalam Islam adalah merupakan rekatan persaudaraan yang di nisbatkan kepada seluruh Umat Islam di dunia, bahwa Muslim satu dengan yang lainnya adalah saudara. 

FLP membuat sebuah ruang kebersamaan itu dengan Ukhuwah yang penuh epik, sehingga tercipta Harmonisasi antar anggota, untuk saling berbagi, membantu, mendukung, mengingatkan, mengasihi dan mencintai. menanamkan sifat Ta'aluf (satu hati), sifat Targhib (saling memberi semangat) dan Tasykil (saling mengajak untuk lebih baik) didalam kerangka Tarbiyyah Al-Nafs (perbaikan diri). 

4. SALING BERLOMBA DALAM KEBAIKAN

Sebagai upaya meningkatkan potensi anggotanya, FLP ternyata juga memiliki keunikan di dalam hal ini, para anggotanya diseru agar saling berlomba dalam Kreatifitas menulis, berprestasi, meningkatkan potensi, bersaing untuk menjadi yang terbaik, namun tetap harmonis. kenapa bisa demikian ? karena FLP menanamkan sikap Jazbah al-Istiqaamah ( semangat yang Istiqamah), bahwa semua ini adalah perjuangan untuk meraih kejayaan Islam, sisi lain dari peribadatan 'Ghairu Mahdhah (ibadah harian selain yang ditetapkan). bukan layaknya persaingan yang di artikan untuk saling mengalahkan dan menjatuhkan antara satu dengan yang lain. berlakulah kaidah siapa saja yang gigih berjuang maka dia berhak mendapatkan Apresiasi atau Penghargaan, berupa Kesuksesan di dunia dan Pahala di akhirat. dan dari sinilah mengapa generasi penulis FLP menjadi berkembang dan bertambah banyak, tak lain dan tak bukan karena mereka saling berlomba dalam kebaikan dalam rangka Perjuangan dan Ibadah.

5. REGENERASI YANG BERKESINAMBUNGAN

Tidak dapat dipungkiri, dalam sebuah Organisasi terkadang akan mengalami permasalahan Regenerasi, bisa jadi karena terkendala pada Sumber daya Manusia dan atau Eksistensi Personal, yang ada kalanya menurun, namun tidak demikian dengan FLP Jogja, mereka memiliki sebuah Pola estafet yang patut di acungi jempol, betapa tidak, lebih dari sepuluh tahun FLP Jogja berdiri di kaki sendiri dengan Regenerasi Tanpa Putus. hal ini sangat unik, kenapa? organisasi yang memiliki pola regenerasi yang tidak terputus adalah merupakan Pertanda bahwa organisasi tersebut Produktif, banyak organisasi besar yang tidak bisa bertahan lama hanya karena pola regenerasi yang tidak terbentuk, sehingga kemudian organisasi tersebut bubar hanya dalam hitungan sekian tahun. Organisasi itu ibarat sebuah Perusahaan, ketika Perusahaan itu produktif maka akan ditandai dengan meningkatnya Jumlah karyawan, meningkatnya Omset Pendapatan  dari tahun ke tahun, yang pada Prinsipnya sebuah Perusahaan yang memiliki Produktifitas tinggi selalu disertai dengan terobosan baru, baik yang kaitannya dengan Produksi, Manajemen administrasi (Organizing & Actuating) maupun Manajemen marketingnya. perihal ini sama dengan sebuah organisasi, dan intinya, FLP Jogja sebagai Organisasi Kepenulisan telah mampu menunjukkan Prestasi dari Produktifitasnya selama ini, sehingga bisa tetap Eksis dari tahun ke tahun.

6. PRINSIP TIGA PILAR YANG MENGGUNCANGKAN DUNIA KEPENULISAN

Eksistensi, Produktifitas, dan Kontinuitas, sangat bergantung pada pilar-pilar yang menjadi Rukun berdirinya sebuah Organisasi. disetiap organisasi tentu memiliki AD/ART yang jelas, memiliki Karakter, memiliki Acuan dalam menggerakkan organisasi dengan Program terarah, untuk menjadi organisasi yang bisa meraih Visi dan Misinya. terkait dengan itu semua, FLP pada umumnya adalah sebuah organisasi sebagaimana organisasi-organisasi yang lain, namun yang berbeda adalah, ketika FLP menancapkan Tiga Pilar yang memang memiliki asas filosofi yang mendasar di dalam perjuangannya. Pilar tersebut yaitu Pilar Kepenulisan, Pilar Keislaman dan Pilar Keorganisasian. dari pilar-pilar tersebut kemudian ter-konsentrasi menjadi satu kesatuan yang menopang kuat, sehingga kita bisa melihat bagaimana penulis-penulis FLP meng-aplikasikannya dalam setiap batin tulisannya, mewujudkan pilar-pilar tersebut secara nyata dan disiplin. tidak pernah kita temui tulisan penulis FLP yang keluar dari Pilar Keislaman, kecuali akan dicekal dan dicoret dari keanggotaan FLP, anggota FLP yang tidak aktif dalam Keorganisasian akan tersisih dan segera tergantikan, anggota yang tidak Produktif akan tergeser secara Sistematik.

Dari tiga pilar itu lahirlah Asma Nadia, Helvytiana Rosa, Habiburrahman El Sirazy, Pipit Senja, Afifah Affra, dan Ratusan Penulis Islam yang memegang teguh identitas keislaman dalam setiap karyanya, yang dengan pena nya, memberi pengaruh pergerakan Islam di kalangan Kaum Muslimin, Bersinergi dengan tetap aktif melakukan Pembinaan Keorganisasian FLP yang sudah berkembang pesat seperti Rumput di Musim Hujan, menggebrak peradaban yang saat ini riuh oleh Tulisan Karya Liberalis, Sekuleris dan Pluralis.

Dengan Keorganisasian, Konsep-konsep dakwah di usung, Menyebar ke Penjuru Nusantara, Pemuda-pemuda Islam telah bangkit dengan keberaniannya, berprestasi, berjuang, dan ikut terjun dalam laju Dakwah Kepenulisan, dengan Slogan " Menggapai Takwa dengan Tinta", FLP mampu meraih apresiasi dari berbagai kalangan Sastrawan, Sebagai Komunitas Kepenulisan Terbesar di Indonesia yang paling Produktif mencetak Generasi Penulis.

Itulah Enam Fakta Unik, yang saya dapatkan dari pengalaman bergabung dengan FLP Jogja, walaupun masih baru. Sebuah harapan tersemat untukmu FLP Jogja, bahwa Perjuangan Belum Berakhir, Wahai Pejuang-pejuang Pena, tetaplah Berkarya !!!.


______________Must Thoni El Jawiy______________2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu