Tetesan Air Tak Akan lagi Berarti Setelah Datang Aliran Air Yang Deras

Kamis, 08 Januari 2015

ADAB MEMBERIKAN KRITIK DAN NASEHAT

Bismillahirahmaanirrahiim,

Sobat Pena, telah masyhur didalam banyak sekali dalil, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sangat memperhatikan adab, baik yang berkaitan dengan adab pribadi (Al-Adaab Al-Mufrad), yaitu adab kepada orang lain, kepada orang kafir, adab kepada orang tua, adab kepada Allah dan Rasul-Nya, adab-adab keseharian, dan lain sebagainya, semua itu telah diatur dan diajarkan didalam Islam, termasuk disini bagaimana adab kepada sesama muslim.

Didalam keseharian, di mungkinkan ketika kita berinteraksi dengan sesama muslim, akan terjadi konflik, baik yang berhubungan dengan kesalahan, kekeliruan, atau penyimpangan, sehingga diwajibkan antara sesama muslim untuk saling menasehati didalam kebenaran dengan cara yang ma'ruf, sebagaimana disebutkan didalam Alqur'an Surat Al-ashr ;

"Demi masa, sesungguhnya manusia itu (semua) dalam kerugian, kecuali (mereka) yang beriman dan beramal shalih, (mereka) saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran".

Dalil diatas menunjukkan betapa Allah meletakkan kerugian keatas semua manusia, terkecuali dari mereka yang menjaga keimanan dan amal shalih serta saling menasehati, artinya dalil diatas adalah merupakan perintah dan anjuran agar kita saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sehingga kita tidak termasuk orang yang rugi.

Kenapa manusia rugi? dijelaskan bahwa kerugian itu adalah bersifat umum yaitu kerugian yang terjadi ketika seseorang melakukan sebuah perilaku yang menyimpang dari syariat dan kemudian membuat kemudharatan kepada yang lain, dalam korelasinya maka orang ini telah merugi, ditinjau dari beberapa hal ;

1. Rugi karena telah menjatuhkan dirinya kepada kesesatan, sedangkan telah ada nasehat atas kesesatan tersebut.
2. Rugi karena telah meninggalkan nasehat yang bertujuan untuk membuat seseorang menjadi manusia yang baik dan mendapatkan keselamatan.
3. Rugi ketika mereka yang menetapi kebenaran namun dia tidak bersabar atas ujian keimanan dari Allah sehingga ia gagal melalui ujian tersebut.
4. Rugi karena manusia tidak mau saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran.

Disini bisa kita ambil ibrah, bahwa sungguh Islam memiliki pandangan yang begitu spesifik didalam permasalahan menasehati dan bersabar, sampai-sampai dikaitkan dengan waktu dalam kehidupan manusia. artinya Islam mendudukkan hal ini dalam urgensitas yang tinggi, dibanding perkara yang lain. maka sangat benar ucapan Imam As-syafi'i rahimahullah, yang menjelaskan, jika saja tidak ada lagi dalil selain dalil ini, maka ini sudah mencukupi untuk dijadikan dalil ke semua aspek kehidupan manusia, karena memang konsep dasar dalam kehidupan manusia, adalah adanya keimanan, amal shalih, saling menasehati serta bersabar didalam menghadapi ujian kehidupan ini, sehingga tercapai tujuan yang baik dan benar didalam menjalani kehidupan, yaitu Ridha Allah subhanawata'ala.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (Al Ahzab 70-71)

Namun saya tidak akan membahas panjang lebar tentang keimanan dan amal shalih, karena itu membutuhkan pembahasan yang terlampau panjang, dan dalam kaitannya saya akan menukil tentang bagaimana kaidah nasehat/menasehati/mengritik didalam Islam.

Islam telah mengajarkan bagaimana adab menasehati, adab mengritisi orang lain, baik yang bersifat khusus maupun umum. Rasullullah dan Para Sahabatnya Ridhwanallahu jami'an, telah mengamalkan kaidah menasehati ini dengan baik, sebagaimana kita lihat dalam sejarah, banyak sekali kisah-kisah nasehat yang untuk sekarang ini sudah jarang terjadi atau sudah banyak ditinggalkan oleh Umat Islam.

Sesungguhnya kesalahan dan kekhilafan merupakan sifat yang melekat pada diri anak cucu Adam. Oleh karenanya, setiap orang bisa saja dikritik dan dibantah. Tidak ada seorang pun yang ma’shum selain para Nabi dan Rasul. Meski demikian, terdapat beberapa ketentuan dan etika yang patut diperhatikan oleh setiap pihak yang ingin mengritik dan membantah seorang yang keliru dan menyelisihi kebenaran. Berikut berbagai ketentuan dan etika tersebut

1. MENASEHATI DENGAN CARA YANG MA'RUF

Islam membagi Adab Menasehati secara proporsional, cara menasehati orang jahil dengan menasehati orang berilmu tentu berbeda, menasehati kekeliruan umum yang kecil dengan menasehati kekeliruan khusus yang berhubungan dengan penyimpangan/kesalahan dan maksiat juga tentu berbeda, begitu pula menasehati orang yang tidak bersalah dengan orang yang bersalah pun juga berbeda, yang semua itu hendaknya dilakukan dengan cara yang ma'ruf menurut syariat, bukan menurut kita, hal ini agar nasehat bisa ditegakkan dengan adil dan tidak berlebih-lebihan, sebagaimana dijelaskan didalam dalil ;

“Berkatalah kamu berdua kepadanya dengan lemah lembut agar ia mengikuti jalan yang benar atau agar ia takut kepada-Ku (Q.S. Al Hujarat : 13)

"Dan Allah (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat". (An Nisa: 58).

Artinya kaidah pertama yang harus ditegakkan dalam menasehati adalah dengan cara yang baik (ma'ruf), cara yang baik ini tidak dinisbatkan kepada kebaikan menurut diri sendiri, namun kebaikan menurut Allah. karena memang tidak ada kebaikan selain kita bernisbat kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga nasehat tersebut tidak menyimpang dan justru menjadi kesalahan.

Misal dalam sebuah forum, kita melihat adanya suatu kesalahan kecil yang dilakukan oleh salah satu anggota forum, maka tidak mungkin kita kemudian berteriak dan menggebrak meja dan menghujatnya dengan berapi-api, namun hendaknya kita menasehatinya dengan tetap memperhatikan dan menjaga harga diri orang tersebut, sehingga nasehat yang disampaikan menjadi bermanfaat dan tidak menjadi mudharat.

Namun berbeda ketika kita menasehati seseorang yang melakukan kesalahan besar sehingga merugikan, tentu hendaknya menggunakan kata-kata yang tegas didalam menasehatinya sesuai dengan besarnya kesalahan yang dilakukan, dan ini dilakukan sebagai Tahdzir dan Tarhib kepada pelaku agar jera dan tidak mengulanginya  lagi, dan sikap marah ini adalah ma'ruf menurut syariat, sebagaimana sebuah dalil mengatakan 

"Aisyah radliyallahu ‘anha, beliau berkata: “Tidaklah Nabiyullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika diberi dua pilihan melainkan beliau memilih yang paling mudah dari keduanya selama tidak mengandung dosa. Apabila mengandung dosa, maka beliau menjauhkan diri dari keduanya. Demi Allah, beliau tidak pernah marah karena hal yang dilakukan terhadapnya kecuali jika pengharaman Allah dilanggar maka beliau marah karena Allah.” (HR. Bukhari)

2. MENASEHATI DENGAN LANDASAN IKHLAS KARENA ALLAH

Sebagai Muslim hendaknya ketika melakukan kritikan, tanggapan, menasehati itu dilandasi dengan  mengharapkan Wajah Allah ta’ala , dia tidak boleh melancarkan kritikan dan bantahan dengan  tujuan menonjolkan diri, tidak pula mencari popularitas dan membalas dendam. Jangan sampai kita mengritik karena termotivasi oleh hasad (kedengkian) atau berbagai tendensi tertentu, namun hendaknya yang memotivasinya dalam mengritik adalah untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskan kesalahan yang ditopang keinginan memperoleh Ridha dari Allah Subhanawata'ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Wajib bagi setiap orang yang memerintahkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran itu ikhlas dalam tindakannya dan menyadari bahwa tindakannya tersebut adalah ketaatan kepada Allah. Dia berniat untuk memperbaiki kondisi orang lain dan menegakkan hujjah atasnya, bukan untuk mencari kedudukan bagi diri dan kelompok, tidak pula untuk melecehkan orang lain.”

3. MENASEHATI DENGAN ILMU BUKAN DENGAN PENDAPAT PRIBADI

Banyak terjadi diantara kita, yang menyampaikan kritik tanpa ilmu, sehingga keluarlah umpatan dan cemoohan yang sama sekali tidak berlandaskan ilmu bahkan jusru hal ini dilakukan diatas al-ahwa yang menyerupai perilaku syetan. pernah didapati sebuah forum literasi yang menghujat seorang anggotanya sebagai kritisi atas tulisan yang ia buat, dengan kata-kata yang sangat menyakiti dan menyinggung perasaan, dengan alasan ini sebagai spirit dan cambuk agar anggotanya bisa menulis lebih baik, hal ini tentu tidak dibenarkan secara syariat, karena didalam meng-kritik sebuah tulisan hendaknya dilakukan metode ilmiyah, bukan perkara pendapat pribadi, karena apabila sebuah tulisan dinilai dengan pandangan pribadi maka sungguh tidak ada satupun penulis yang lepas dari hujatan, karena diadili dengan pendapat masing-masing orang yang susah ditetapkan kebenarannya, dimana satu dengan yang lain memiliki pendapat yang berbeda-beda.

Hendaknya didalam mengkritik sebuah tulisan diterapkan metode yang baik dengan memilah beberapa hal, tentang apa tulisan itu, menyimpang atau tidak dengan syariat, bagaimana penulisannya, dan lain sebagainya, dan mulailah menganalisa dengan adil, jika yang terjadi adalah sebuah tulisan yang menyimpang dari syariat maka kritik harus lugas dan tegas dengan menyertakan pelurusannya, tapi jika yang terjadi adalah kesalahan dalam typografinya, susunan katanya, tentu tidak pantas dengan disertai hujatan, karena setiap orang bisa saja melakukan kesalahan yang sama dan tidak mau diperlakukan demikian pula, cukup dengan menyampaikan tulisan tersebut masih perlu dibenahi dari sisi ini itu, tunjukkan pelurusannya tanpa menghinakan penulisnya, karena jika kita menghujatnya pun kita tidak memiliki landasan yang membenarkan hujatan tersebut dan justru berlebih-lebihan dan tidak adil.

4. MENASEHATI DENGAN BAYYIN (YANG JELAS) TANPA SU'UDHAN (PRASANGKA BURUK)

Nasehat atau kritik hendaknya disampaikan dengan dhan yang baik, sehingga tidak menghakimi sesuatu yang tidak terlihat ihwalnya, misalkan kita mendapati sebuah statemen seseorang yang mengatakan "Saya akan berusaha untuk lebih baik di kemudian hari" lalu ada yang mengomentari bahwa dia telah berbohong atas ucapannya tersebut, sedangkan tidak terbukti secara dhahir kebohongan tersebut, maka hal ini sangat dilarang didalam Islam, karena masuk kepada fitnah. Jika memang tidak bisa diketahui maka lebih baik diam dan berlepas diri dari memberikan tanggapan, karena kita tidak boleh mengatakan sesuatu yang tidak diketahui, sehingga berlaku hasut dan melakukan fitnah. Kita hanya wajib menasehati kesalahan yang dhahir terlihat sedangkan yang tidak terlihat (batin) maka ini adalah urusan Allah, bukan urusan kita.

5. KRITIK DILAKUKAN SECARA HIKMAH DAN PROPORSIONAL

Tidak Semua kritik atau nasehat bisa dilakukan dengan terang-terangan dan juga tidak selalu nasehat harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi, hal ini berkaitan dengan situasi dan kondisi. Seorang kritikus perlu bersikap hikmah, sehingga dia mampu menempuh metode yang paling tepat sesuai kondisi pihak yang dikritik. Jika kesalahan tersebut dipublikasikan secara terang-terangan secara luas, maka dalam kondisi demikian bantahan dapat dilancarkan dengan terang-terangan pula. Namun, apabila kesalahan tersebut bersifat personal, maka hendaknya pengritik membantah dan mengingatkannya empat mata, tanpa perlu dipublikasikan.

6. MENGHUKUMI PERKATAAN ATAU PERBUATAN BUKAN PERSONAL

Ketika kita menasehati atau mengritik seseorang, hendaknya bukan kepada vonis personalnya, namun pada perkataan dan perbuatannya, misal seseorang melakukan kekufuran jangan lantas kita menghujat pribadinya dengan mengatakan "Kamu telah Kafir..!!!" hal ini sangat dilarang didalam Islam, karena untuk mengklaim seseorang kafir atau tidak itu tidak serta merta karena seseorang telah melakukan kekufuran, misalkan orang yang kufur nikmat, bukan berarti dia telah kafir, tapi dia telah melakukan kekufuran saja, dan klaim atas kafir atau tidaknya itu membutuhkan penelusuran dan alasan yang tsiqah serta dilakukan oleh ahlinya yaitu para ulama yang faqih atas masalah tersebut. Intinya kita hanya mengritisi kesalahannya baik perkataan atau perbuatannya, bukan pribadinya, sebelum jelas perkara yang mendasari kita untuk memberikan vonis pribadinya.

Tujuan dari tulisan ini adalah sebagai tanggapan dan kritik untuk teman-teman FLP Yogyakarta, agar ketika memberikan kritik atau nasehat, hendaknya memperhatikan adab-adab dan etika yang sesuai dengan syariat, karena FLP adalah bertumpu pada pilar Ke-Islaman, sehingga sudah semestinya didalam melakukan segala hal harus rujuk dan berlandaskan Syariat.

Demikian ulasan tentang Adab Memberikan Kritik, semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan kepada para pembaca secara umum, adapun jika terdapat kesalahan dan kekeliruan, mohon para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun diatas kebenaran dan kebaikan, sungguh kebenaran yang hakiki adalah milik Allah Subhanawata'ala.

Akhirnya, mari kita senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dengan cara yang syar'i dan ilmiah, terjauh dari Al-Ahwa dan Nafsu, berlaku sabar akan hal itu secara istiqamah, sebab inti dari menasehati atau mengritik adalah karena Allah, mengharapkan Ridha-Nya, untuk menegakkan kebenaran, untuk kebaikan orang yang dinasehati dan yang menasehati, bukan karena pandangan pribadi atau prasangka yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Menasehati adalah salah satu ibadah yang mulia, untuk itu gunakanlah cara yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya, sehingga kita terjauh dari kemudharatan dan perangkap syetan. Wallahu a'lamu bishawab.

----------Must-Thoni El-Jawiy---------

Rujukan :

- Alqur'anul Karim
- Al-Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Dhawabith fin Naqd war Radd, Syaikh Salim At-thawil,(dengan beberapa penyesuaian)
Al Amru bil Ma’ruf wa An Nahyu ‘Anil Munkar, Al Khallal 
Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh 
Tafsir Adlwa’ul Bayan, Syaikh Muhammad Amin Asy Syanqithi 
‘Umdatul Qari’ Al ’Allamah Al ’Ainy


1 komentar:

  1. Al hujurat ayat 13 tidak sesuai dengan arti yg kamu tampilkan. Yang bener at-thoha ayat 44..
    Tolong diperbaiki...

    BalasHapus

Saya Hanya Menanggapi Komentar Yang bermutu